Pemikiran Filsafat Ibnu Sina
| Ilustrasi. Ibnu Sina: Sang Filsuf Dunia Islam yang Dikenal Sebagai "Bapak Kedokteran" Baik dalam Dunia Islam maupun Dunia Barat Sumber: www.kompas.com |
Dalam sejarah
pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina dalam banyak hal
dibicarakan oleh banyak orang, sedang diantara para filosof muslim ia tidak
hanya unik, tapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa
modern. Ia adalah satu-satunya filosof besar Islam yang telah berhasil
membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah
mendominasi tradisi filsafat muslim beberapa abad.
Pengaruh ini
terwujud bukan hanya karena ia memiliki sistem, tetapi karena sistem yang ia
miliki itu menampakkan keasliannya yang menunjukkan jenis jiwa yang jenius
dalam menemukan metode-metode dan alasan-alasan yang diperlukan untuk
merumuskan kembali pemikiran rasional murni dan tradisi intelektual Hellenisme
yang ia warisi dan lebih jauh lagi dalam sistem keagamaan Islam.
BIOGRAFI
Nama lengkap Ibnu
Sina adalah Abu Ali Husain Ibnu Abdillah Ibn Sina. Dalam dunia Barat beliau
dikenal dengan nama Avvicenna. Ia lahir pada Shafar 370 H/Agustus 980 M di
Ifsyina (negeri kecil dekat Charmitan), suatu tempat dekat Bukhara. Orang
tuanya adalah pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Saman. Beliau dibesarkan
di Bukhara serta belajar falsafah kedokteran dan ilmu-ilmu agama Islam disana.
Ketika usia sepuluh tahun ia telah banyak mempelajari ilmu agama Islam dan
berhasil menghafal Al-Qur’an. Dari Abu Abdellah Natili, Ibnu Sina mendapat
bimbingan mengenai ilmu logika untuk mempelajari buku Isagoge dan Porphyry,
Euclid dan Al-Magest Ptolemus. Setelah itu ia mendalami ilmu agama dan
metafisika Plato dan Arsitoteles. Dengan kekuatan kecerdasannya ia banyak
mempelajari filsafat dan cabang-cabangnya, ia berhasil memahami metafisika-nya
Arisstoteles, ketika ia membaca Agradhu Kitab Ma Waraet Thabie’ah Li Aristho
-nya Al-Farabi.
Ia mempelajari ilmu
kedokteran pada Isa bin Yahya, seorang Masehi. Meskipun secara teori ia belum
matang, tetapi ia banyak melakukan keberhasilan dalam mengobati orang-orang
sakit. Ia tidak pernah bosan atau gelisah dalam membaca buku-buku filsafat dan
setiap kali menghadapi kesulitan, maka ia memohon kepada Tuhan agar diberikan
petunjuk, maka didalam tidurnya itu Tuhan memberikan pemecahan terhadap
kesulitan-kesulitan yang dihadapinya.
Umur 17 tahun ia
telah dikenal sebagai dokter dan atas panggilan Istana pernah mengobati
pangeran Nuh Ibnu Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya. Sejak itu, Ibnu
Sina mendapat akses untuk mengunjungi perpustakaan istanayang terlengkap yaitu
Kutub Khana. Perpustakaan tersebut terbakar dan orang-orang menuduh Ibn Sina
sengaja membakarnya, agar orang lain tidak bisa lagi mengambil manfaat dari
perpustakaan itu.
Ibnu Sina pula
sebagai orang pertama yang menemukan peredaran darah manusia, dimana enam ratus
tahun kemudian disempurnakan oleh William Harvey. Dia juga orang yang pertama
kali mengatakan bahwa bayi selama masih dalam kandungan mengambil makanannya
lewat tali pusarnya. Dia juga yang mula-mula mempraktekkan pembedahan
penyakit-penyakit bengkak yang ganas, dan menjahitnya. Dan dia juga terkenal
sebagai dokter ahli jiwa yang kini disebut psikoterapi.
Dibidang filsafat,
Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan
sesudahnya. Ibnu Sina otodidak dan genius orisinil yang bukan hanya dunia Islam
menyanjungnya ia memang merupakan satu bintang gemerlapan memancarkan cahaya
sendiri, yang bukan pinjaman sehingga Roger Bacon, filosof dari Eropa Barat
pada Abad Pertengahan menyatakan dalam Regacy of Islam-nya Alfred Gullaume;
“Sebagian besar filsafat Aristoteles sedikitpun tak dapat memberi pengaruh di
Barat, karena kitabnya tersembunyi entah dimana, dan sekiranya ada, sangat
sukar sekali didapatnya dan sangat susah dipahami dan digemari orang karena
peperangan-peperangan yang merajalela di sebeleah Timur, sampai saatnya Ibnu
Sina dan Ibnu Rusyd dan juga pujangga Timur lain membuktikan kembali falsafah
Aristoteles disertai dengan penerangan dan keterangan yang luas”.
Selain sebagai
filosof dan dokter, ia juga dikenal sebagai penyair. Ilmu-ilmu pengetahuan
seperti ilmu jiwa, logika, kedokteran dan kimia, ia tulis dalam bentuk syair.
Kebanyakan buku-bukunya telah disalin kedalam bahasa Latin. Orang-orang Eropa
mulai mempergunakan buku-buku itu sebagai referensi dipelbagai Universitas.
Oleh karena itu nama Ibnu Sina pada abad pertengahan sangat berpengaruh di
Eropa. Ia meninggal pada tahun 428 H (1037 M) di Hamdzan.
KARYA – KARYA
Karya-karya Ibnu
Sina yang termasyhur dalam Filsafat adalah As-Shifa, An-Najat dan Al-Isyarat.
An-Najat adalah ringkasan dari kitab As-Shifa. Al-Isyarat, berisikan tentang
logika dan hikmah. Selain dari pada itu, ia banyak menulis karangan-karangan
pendek yang dinamakan Maqallah. Kebanyakan maqallah ini ditulis ketika ia
memperoleh inspirasi dalam sesuatu bentuk baru dan segera dikarangnya.
Walaupun ia sibuk
dengan soal negara, tetapi ia berhasil menulis sekitar dua ratus lima puluh
karya. Diantaranya karya yang paling masyhur dalam bidang kedokteran adalah
“Al-Qanun” yang berisikan pengobatan
Islam dan diajarkan hingga kini di Timur. Buku ini diterjemahkan ke bahasa
Latin dan diajarkan berabad lamanya di Universitas Barat. Karya keduanya adalah
ensiklopedinya yang monumental “As-Syifa”. Karya ini merupakan titik puncak
filsafat paripatetik dalam Islam.
Diantara
karangan-karangan Ibnu Sina adalah :
- Buku mengenai politik seperti: Risalah As-Siyasah, Fi Isbati an-Nubuwah, Al-Arzaq,
- Buku mengenai Tafsir seperti: Surah al-Ikhlas, Surah al-Falaq, Surah an-Nas, Surah al-Mu’awizataini, Surah al-A’la.
- Buku Psikologi seperti: An-Najat.
- Buku ilmu kedokteran seperti: Al-Qanun fi al-Thibb, al-Urjuzah fi At-Tibi, al-Adwiyah al-Qolbiyah, Kitabuhu al-Qoulani, Majmu’ah Ibn Sina al-Kubra, Sadidiyya.
- Buku tentang Logika seperti: Al-Isyarat wat Tanbihat, al-Isyaquji, Mujiz, Kabir wa Shaghir.
- Buku tentang musik seperti: Al-Musiqa.
- Al-Mantiq, diuntukkan buat Abul Hasan Sahli.
- Buku Fisika seperti: fi Aqsami al-Ulumi al-Aqliyah
- Qamus el Arabi, terdiri atas lima jilid.
- Buku filsafat seperti As-Syifa’, Hikmah al-Masyiriqiyyin, Kitabu al-Insyaf,Danesh Nameh, Kitabu al-Hudud, Uyun-ul Hikmah.
- dan sebagainya.
Meskipun ia di akui
sebagai seorang tokoh dalam keimanan, ibadah dan keilmuan, tetapi baginya
minum-minuman keras itu boleh, selama tidak untuk memuaskan hawa nafsu.
Minum-minuman keras dilarang karena bisa menimbulkan permusuhan dan pertikaian,
sedangkan apabila ia minum tidak demikian malah menajamkan pikiran. Didalam
al-Muniqdz min al-Dhalal, al-Ghazali bahwa Ibnu Sina pernah berjanji kepada
Allah dalam salah satu wasiatnya, antara lain bahwa ia akan menghormati
syari’at tidak melalaikan ibadah ruhani maupun jasmani dan tidak akan minum-minuman
keras untuk memuaskan nafsu, melainkan demi kesehatan.
PEMIKIRAN
FILSAFAT IBNU SINA
Filsafat Wujud
Ketuhanan
Dalam paham Ibnu
Sina, essensi terdapat dalam akal, sedang wujud terdapat di luar akal.
Wujud-lah yang membuat tiap essensi yang dalam akal mempunyai kenyataan diluar
akal. Kombinasi essensi dan wujud dapat dibagi:
Essensi yang tak
dapat mempunyai wujud (mumtani’al-wujud) yaitu sesuatu yang mustahil
berwujud (impossible being). Contohnya
rasa sakit.
Essensi yang boleh
mempunyai wujud dan boleh pula tidak mempunyai wujud (mumkin al-wujud) yaitu
sesuatu yang mungkin berwujud tetapi mungkin pula tidak berwujud. Contohnya
adalah alam ini yang pada mulanya tidak ada kemudian ada dan akhirnya akan
hancur menjadi tidak ada.
Essensi yang tak
boleh dan tidak mesti mempunyai wujud (wijib al-wujud). Disini essensi tidak
bisa dipisahkan dari wujud. Essensi dan wujud adalah sama dan satu kesatuan. Di
sini essensi tidak dimulai oleh tidak berwujud dan kemudian berwujud,
sebagaimana halnya dengan essensi dalam kategori kedua, tetapi essensi ini
mesti dan wajib mempunyai wujud selama lamanya. Wajib al wujud inilah yang
mewujudkan mumkin al wujud.
Dalam pembagian
wujud wajib dan mumkin, Ibnu Sina terpengaruh oleh pembagian wujud para
Mutakallimun antara lain: baharu (al-hadits) dan Qadim (al-Qadim). Karena dalil
mereka tentang wujud Allah didasarkan pada “hadits” dan “qadim” sehingga,
setiap orang yang ada selain Allah adalah baharu, yakni didahului oleh zaman.
Pendirian ini mengakibatkan lumpuhnya kemurahan Allah pada zaman yang
mendahului alam mahkluk ini, sehingga Allah tidak pemurah pada satu waktu dan
Maha Pemurah pada waktu lain. Dengan kata lain perbuatan-Nya tidak Qadim dan
tidak mesti wajib. Untuk menghindari keadaan Tuhan yang demikian itu, Ibnu Sina
telah menyatakan sejak awal “bahwa sebab kebutuhan kepada al-wajib (Tuhan)
adalah mungkin, bukan baharu”. Pernyataan ini akan membawa kepada iradah Allah
sejak Qadim, sebelum Zaman.
Dari pendapat
tersebut terdapat perbedaan antara pemikiran para Mutakallimin dengan pemikiran
Ibnu Sina. Dimana para Mutakallimin antara qadim dan baharu lebih sesuai dengan
ajaran agama tentang Tuhan yang menjadikan alam menurut kehendak-Nya, sedangkan
dalil Ibnu Sina dalam dirinya terkandung pemikiran Yunani bahwa Tuhan yang
tunduk dibawah “kemestian”, sehingga perbuatan-Nya telah ada sekaligus sejak
qadim. “Perbuatan Ilahi” dalam pemikiran Ibnu Sina dapat disimpulkan dalam 4
catatan sebagai berikut :
Pertama, perbuatan
yang tidak kontinu (ghairi mutajaddid) yaitu perbuatan yang telah selesai
sebelum zaman dan tidak ada lagi yang baharu. Dalam kitab An-Najat (hal. 372)
dijelaskan bahwaadanyawajib wujud (Tuhan) itu adalah keseharusan dari segala
segi, sehingga tidak terlambat wujud lain, dan semua yang mungkin menjadi wajib
dengan-Nya. Tidak ada bagi-Nya kehendak yang baru, tidak ada tabi’at yang baru,
tidak ada ilmu yang baru dan tidak ada suatu sifat dzat-Nya yang baru.Perbuatan
Allah telah selesai sejak qadim, tidak ada sesuatu yang baru dalam pemikiran
Ibnu Sina, seolah-olah alam ini tidak perlu lagi kepada Allah sesudah
diciptakan.
Kedua, perbuatan
Ilahi itu tidak mempunyai tujuan apapun. Sehingga adanya alam merupakan
perbuatan mekanis belaka atas adanya wajib al-wujud. Ketiga, jika perbuatan
Ilahi telah selesai dan tidak mengandung sesuatu maksud, maka akan terbentuk
“hukum kemestian”, seperti pekerjaan mekanis, bukan dari sesuatu pilihan dan
kehendak bebas.
Keempat, perbuatan
itu hanyalah “memberi wujud” dalam bentuk tertentu. Untuk memberi wujud ini
Ibnu Sina menyebutnya dengan beberapa nama, seperti: shudur (keluar), faidh
(melimpah), luzum (mesti), wujub ‘anhu (wajib darinya). Hal ini digunakan oleh
Ibnu Sina untuk membebaskan diri dari pikiran “Penciptaan Agamawi”, karena ia berada
di persimpangan jalan anatara mempergunakan konsep Tuhan sebagai “sebab
pembuat” (Illah fa’ilah) seperti ajaran agama dengan konsep Tuhan sebagai sebab
tujuan (Illah ghaiyyah) yang berperan sebagai pemberi kepada materi sehingga
bergerak ke arahnya secara gradual untuk memperoleh kesempurnaan.
Filsafat Jiwa
Ibnu Sina
memberikan perhatian yang khusus terhadap pembahasan tentang jiwa, Memang tidak
sukar untuk mencari unsur-unsur pikiran yang membentuk teorinya tentang
kejiwaan, seperti pikiran-pikiran Aristoteles, Galius atau Plotinus, terutama
pikiran-pikiran Aristoteles yang banyak dijadikan sumber pikiran-pikirannya.
Namun hal ini tidak berarti bahwa Ibnu Sina tidak mempunyai konsep sendiri
dalam segi pembahasan fisika maupun segi pembahasan metafisika.
Dalam segi fisika,
ia banyak memakai metode eksperimen dan banyak terpengaruh oleh pembahasan
lapangan kedokteran. Dalam segi metafisika dia lebih mendekati
pendapat-pendapat filosof modern. Pemikiran terpenting yang dihasilkan Ibnu
Sina ialah filsafatnya tentang jiwa. Sebagaimana Al-Farabi, ia juga menganut faham
emanasi (pancaran). Dari Tuhan memancar akal pertama, dan dari akal pertama
memancar akal kedua dan langit pertama, demikian seterusnya sehingga tercapai
akal ke sepuluh dan bumi. Dari akal ke sepuluh memancar segala apa yang
terdapat di bumi yang berada dibawah bulan. Akal pertama adalah malaikat
tertinggi dan akal kesepuluh adalah Jibril.
Pemikiran ini
berbeda dengan pemikiran kaum sufi dan kaum mu’tazilah. Bagi kaum sufi
kemurnian tauhid mengandung arti bahwa hanya Tuhan yang mempunyai wujud. Kalau
ada yang lain yang mempunyai wujud hakiki disamping Tuhan, itu mngandung arti
bahwa ada banyak wujud, dan dengan demikian merusak tauhid. Oleh karena itu
mereka berpendapat: Tiada yang berwujud selain dari Allah swt. semua yang
lainnya pada hakikatnya tidak ada. Wujud yang lain itu adalah wujud bayangan.
Kalau dibandingkan dengan pohon dan bayangannya, yang sebenarnya mempunyai
wujud adalah pohonnya, sedang bayangannya hanyalah gambar yang seakan-akan
tidak ada. Pendapat inilah kemudian yang membawa kepada paham wahdat al-wujud
(kesatuan wujud), dalam arti wujud bayangan bergantung pada wujud yang punya
bayangan. Karena itu ia pada hakekatnya tidak ada; bayangan tidak ada. Wujud
bayangan bersatu dengan wujud yang punya bayangan.
Kalau kaum
Mu’tazilah dalam usaha memurnikan tauhid pergi ke peniadaan sifat-sifat Tuhan
dan kaum sufi ke peniadaan wujud selain dari wujud Allah swt, maka kaum filosof
Islam yang dipelopori al-Farabi, pergi ke faham emanasi atau al-faidh. Lebih
dari mu’tazilah dan kaum sufi, al-Farabi berusaha meniadakan adanya arti banyak
dalam diri Tuhan. Kalau Tuhan berhubungan langsung dengan alam yang tersusun
dari banyak unsur ini, maka dalam pemikiran Tuhan terdapat pemikiran yang
banyak. Pemikiran yang banyak membuat faham tauhid tidak murni lagi.
Menurut al-Farabi,
Allah menciptakan alam ini melalui emanasi, dalam arti bahwa wujud Tuhan
melimpahkan wujud alam semesta. Emanasi ini terjadi melalui tafakkur (berfikir)
Tuhan tentang dzat-Nya yang merupakan prinsip dari peraturan dan kebaikan dalam
alam. Dengan kata lain, berpikirnya Allah swt tentang dzat-Nya adalah sebab
dari adanya alam ini. Dalam arti bahwa ialah yang memberi wujud kekal dari
segala yang ada. Berfikirnya Allah tentang dzatnya sebagaimana kata Sayyed
Zayid, adalah ilmu Tuhan tentang diri-Nya, dan ilmu itu adalah daya (al-Qudrah)
yang menciptakan segalanya, agar sesuatu tercipta, cukup Tuhan mengetahui-Nya.
Ibnu Sina
berpendapat bahwa akal pertama mempunyai dua sifat: sifat wajib wujud-nya
sebagai pancaran dari Allah, dan sifat mungkin wujud-nya jika ditinjau dari
hakekat dirinya atau necessary by virtual of the necessary being and possible
in essence. Dengan demikian ia mempunyai tiga obyek pemikiran: Tuhan, dirinya
sebagai wajib wujudnya dan dirinya sebagai mungkin wujudnya. Dengan demikian ia
mempunyai tiga obyek pemikiran: Tuhan, dirinya sebagai wajib wujudnya dan
dirinya sebagai mungkin wujudnya. Dari pemkiran tentang Tuhan timbul akal-akal
dari pemikiran tentang dirinya sebagai wajib wujud-nya timbul jiwa-jiwa dari
pemikiran tentang dirinya sebagai mungkin wujud-nya timbul di langit.
Dari pemkiran
tentang Tuhan timbul akal-akal dari pemikiran tentang dirinya sebagai wajib
wujudnya timbul jiwa-jiwa dari pemikiran tentang dirinya sebagai mungkin
wujudnya timbul di langit. Jiwa manusia sebagaimana jiwa - jiwa lain dan segala
apa yang terdapat di bawah Bulan, memancar dari akal ke sepuluh.
Secara garis besar
Jiwa dapat dibagi menjadi dua segi yaitu:
Segi fisika yang
membicarakan tentang macam-macamnya jiwa (jiwa tumbuhan, jiwa hewan dan jiwa
manusia).
Ibnu Sina membagi
jiwa dalam tiga bagian: Pertama, Jiwa tumbuh-tumbuhan
mempunyai daya:Makan (nutrition), Tumbuh (growth), Berkembang biak
(reproduction). Kedua, Jiwa binatang mempunyai
daya: Gerak (locomotion), Menangkap (perception) dengan dua bagian: a) Menagkap
dari luar dengan panca indera. Terdiri dari lima unsur; sentuh, perasa,
pencium, penglihatan, pendengaran. b) Menangkap dari dalam dengan indera-indera dalam. Terdiri dari lima
indera; indra al-hiss al-musytarak berfungsi menerima segala yang ditangkap
oleh indera luar, indra al-khayyal berfungsi menyimpan apa yang ditangkap
indera bersama, indera al-mutakhayyilat berfungsi menyusun apa yang disimpan
oleh khayyal, indera estimasi berfungsi menangkap hal-hal yang abstrak.
Seperti menghindari sesuatu yang dibenci
oleh hewan tersebut, dan indera rekoleksi berfungsi menyimpan hal-hal abstrak
yang diterima dari estimasi.
Ketiga, Jiwa manusia
mempunyai daya: Daya Praktis berhubungan dengan badan dan daya Teoritis berhubungan
dengan hal-hal abstrak. Daya teoritis
mempunyai tingkatan: a) Akal materiil yang semata-mata mempunyai potensi
untuk berfikir dan belum dilatih walaupun sedikitpun. b) Akal al-malakat, yang
telah mulai dilatih untuk berfikir tentang hal-hal abstrak. c) Akal aktual,
yang telah dapat berfikir tentang hal-hal abstrak. d) Akal mustafad yaitu akal
yang telah sanggup berfikir tentang hal-hal abstrak dengan tak perlu pada daya
upaya.
Segi metafisika,
yang membicarakan tentang wujud jiwa dan hakikat jiwa, pertalian jiwa dengan
badan dan keabadian jiwa. Ada empat dalil yang dikemukakan oleh Ibnu Sina untuk membuktikan
adanya jiwa yaitu: Pertama, Dalil Alam Kejiwaan. Pada diri
kita ada peristiwa yang tidak mungkin di tafsirkan kecuali sesudah mengakui
adanya jiwa. Peristiwa- peristiwa tersebut adalah gerak dan pengenalan. Gerak
ada dua macam yaitu: a) Gerak paksaan (harakah qahriah) yang timbul sebagai
akibat dorongan dari luar dan yang menimpa sesuatu benda kemudian menggerakkannya.
b) Gerak bukan paksaan, dan gerak ini terbagi menjadi dua yaitu: 1) Gerak
sesuai dengan ketentuan hukum alam, seperti jatuhnya sesuatu dari atas ke
bawah. 2) Gerak diam benda yang terjadi dengan melawan hukum alam, seperti
manusia yang berjalan di bumi, sedang berat badan seharusnya menyebabkan ia
diam, atau seperti burung yang terbang di udara, seharusnya jatuh atau tetap di
sarangnya di atas bumi. Gerak yang berlawanan dengan ketentuan alam tersebut
menghendaki adanya penggerak khusus yang melebihi unsur-unsur benda yang
bergerak. Penggerak tersebut adalah jiwa.
Pengenalan tidak
dimiliki oleh semua mahluk, tetapi hanya di miliki oleh sebagiannya. Yang
memiliki pengenalan ini menunjukkan adanya kekuatan-kekuatan lain yang tidak
terdapat pada lainnya. Begitulah isi dalil natural-psikologi dari Ibnu Sina
yang didasarkan atas buku De Anima (Jiwa) dan Physics, kedua-duanya dari
Aristoteles.Namun dalil Ibnu Sina tersebut banyak berisi kelemahan-kelemahan
antara lain bahwa natural (physic) pada dalil tersebut dihalalkan. Dalil
tersebut baru mempunyai nilai kalau sekurangnya benda-benda tersebut hanya
terdiri dari unsur-unsur yang satu macam, sedang benda-benda tersebut
sebenarnya berbeda susunannya (unsur-unsurnya).
Oleh karena itu
maka tidak ada keberatannya untuk mengatakan bahwa benda-benda yang
bergerakmelawan ketentuan alam berjalan sesuai dengan tabiatnya yang khas dan
berisi unsur-unsur yang memungkinkan ia bergerak. Sekarang ini banyak alat-alat
(mesin ) yang bergerak dengan gerak yyang berlawanan dengan hukum alam, namun
seorang pun tidak mengira bahwa alat-alat (mesin-mesin) tersebut berisi jiwa
atau kekuatan lain yang tidak terlihat dan yang menggerakkannya. Ibnu Sina
sendiri menyadari kelemahan dalil tersebut. Oleh karena itu dalam kitab-kitab
yang dikarang, seperti al-syifa dan al-Isyarat, dalil tersebut disebutkan
sambil lalu saja, dan ia lebih mengutamakan dalil-dalil yang didasarkan atas
segi-segi pikiran dan jiwa.
Dalil Aku dan
Kesatuan Gejala Kejiwaan
Menurut Ibnu Sina
apabila seorang sedang membicarakan tentang dirinya atau mengajak bicara kepada
orang lain, maka yang dimaksudkan ialah jiwanya, bukan badannya. Jadi ketika
kita mengatakan saya keluar atau saya tidur , maka bukan gerak kaki, atau
pemejaman mata yang dimaksudkan, tetapi hakikat kita dan seluruh pribadi kita.
Dalil
Kelangsungan (kontinuitas)
Dalil ini
mengatakan bahwa masa sekarang mempunyai hubungan dengan masa lampau dan masa
depan. Kehidupan ruh pada pagi ini ada hubungannya dengan kehidupan ruh yang
kemarin, bahkan kehidupan yang terjadi sekarang ada hubungannya dengan kehidupan
yang terjadi beberapa tahun yang telah lewat. Perubahan tersebut saling
berhubungan karena adanya jiwa.Ibnu Sina
dengan dalil kelangsungan tersebut telah membuka ciri kehidupan pikiran yang
paling khas dan mencerminkan penyelidikan dan pembahasannya yang mendalam.
Hukum Orang
Terbang atau Tergantung di Udara
Dalil ini adalahn
yang paling jelas menunjukkan intelektualitas Ibnu Sina. Meskipun dalil
tersebut didasarkan atas perkiraan dan khayalan. Dalil tersebut sebagai
berikut: jika ada seseorang yang bisa menggantungkan dirinya di udara dan tidak
merasakan sesuatu persentuhan atau bentrokan atau perlawanan.Kemudian ia
menutup matanya dan tidak melihat sama sekali apa yang ada di sekelilingnya.
Maka orang tersebut akan menyadari bahwa dirinya itu ada.Jika ia memikirkan
tentang wujud adanya tangan dan kakinya, berarti wujud penggambaran dirinya
membuktikan bahwa eksistensi jiwa dalam organ itu ada.
Menurut Ibnu Sina
jiwa manusia merupakan satu unit yang tersendiri dan mempunyai wujud terlepas
dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan, yang sesuai
dan dapat menerima jiwa, lahir didunia ini. Sungguh pun jiwa manusia tidak
mempunyai fungsi – fungsi fisik, dan dengan demikian tak berhajat pada badan
untuk menjalankan tugasnya sebagai daya yang berfikir, jiwa masih berhajat pada
badan karena pada permulaan wujudnya badanlah yang menolong jiwa manusia untuk
dapat berfikir.
Falsafat Wahyu
dan Nabi
Gejala kenabian dan
wahyu ilahi merupakan sesuatu yang dibangun dalam empat tingkatan: intelektual,
“imajinatif”, keajaiban, dan sosio-politis. Totalitas keempat tingkatan ini
memberi kita petunjuk yang jelas tentang motivasi, watak dan arah pemikiran
keagamaan. Perbedaan antara nabi dan filosof yang telah dijelaskan oleh
Sirajuddin bahwa seorang nabi adalah manusia pertama, manusia pilihan Tuhan dan
tidak peluang bagi filosof untuk menjadi nabi. Sedangkan filosof adalah menusia
kedua, manusia yang mempunyai intelektual yang tinggi dan tidak bisa menjadi
nabi.
Dari yang telah
dijelaskan sebelumnya, akal manusia terdiri empat macam yaitu akal materil,
akal intelektual, akal aktuil, dan akal mustafad. Dari keempat akal tersebut
tingkatan akal yang terendah adalah akal materiil dan tingkatan akal yang
terberat adalah akal mustafad. Kebenaran filosof didapat melalui akal mustafad
karena perolehan ilham yang merupakan sebuah perjuangan dan latihan yang keras.
Sedangkan kebenaran nabi didapat dari malaikat Jibril yang berhubungan dengan
nabi melalui akal materiil yang disebut hads (kekuatan suci). Kebenaran nabi
itulah yang dinamakan wahyu.
Ada kalanya Tuhan
menganugerahkan kepada manusia akal materiil yang besar lagi kuat, yang Ibnu
Sina diberi nama al hads yaitu intuisi. Daya yang ada pada akal materiil semua
ini begitu besarnya, sehingga tanpa melalui latihan dengan mudah dapat
berhubungan dengan akal aktif dan dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu
dari Tuhan. Inilah bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh manusia dan
terdapat hanya pada nabi-nabi.
Sifat seseorang
bergantung pada jiwa mana dari ketiga macam jiwa yaitu tumbuh-tumbuhan,
binatang dan manusia yang berpengaruh pada dirinya. Jika jiwa tumbuhan atau
hewan mempengaruhi seseorang maka orang itu dapat menyerupai binatang, tetapi
jika jiwa manuisa yang mempunyai pengaruh atas dirinya, maka orang itu dekat
menyerupai malaekat dan dekat dengan kesempurnaan.
Menurut Ibnu Sina
bahwa alam ini diciptakan dengan jalan emanasi (memancar dari Tuhan). Tuhan
adalah wujud pertama yang immateri dan proses emanasi tersebut memancar segala
yang ada.
Tuhan adalah
wajibul wujud (jika tidak ada menimbulkan mustahil), beda dengan mumkinul wujud
(jika tidak ada atau ada menimbulkan tidak mujstahil).
Pemikiran tentang
kenabian menjelaskan bahwa nabi merupakan manusia yang paling unggul dari
filosof karena nabi memiliki akal aktual yang sempurna tanpa latihan, sedangkan
filosof mendapatkannya dengan usaha yang keras.
Sumber:
Abidin, Ahmad
Zaenal, Ibnu Sina (Avecenna) sarjana dan Filosof Dunia, Jakarta: Bulan Bintang,
1949.
Al-Ahwan, Ahmad
Fuad, Filsafat Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1984.
Azwar, Pemikiran
Ibnu Sina Tentang Jiwa. Skripsi Jurusan Aqidah dan Filsafat, Fakultas
Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
2007.
Corbin, Henry.
History of Islamic Philosophy. London
and New York in Association With Islamic Publications For The Institute Of
Ismaili Studies London.
Dasoeki,Thawil
Akhyar, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam, Semarang: Dina Utama Semarang, 1993.
Daudy, Ahmad, Segi – Segi Falsafi dalam Islam, Jakarta:
Bulan Bintang,1984.
Daudy, Ahmad,
Kuliah Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1986.
Hanafi, Ahmad,
Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1986.
Husein, Oemar Amin,
Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
Munawir, Imam.,
Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa, Surabaya: PT.
Bina Ilmu, 1985.
Nasution, Harun,
Falsafat dan Msitisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Nasution, Harun,
Islam ditinjau dari berbagai Aspeknya, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia,
1996.
Syarif, MM, Para
Filosof Muslim, Bandung: Mizan, 1994.
Zar, Sirajuddin,
Filsafat Islam; Filosof dan Filsafatnya, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,
2009.