Hadis Akidah Akhlak dalam Perspektif Paradigma Teoantropoekosentris
![]() |
| Ilustrasi. Pembelajaran Akidah dan Akhlak dapat Berasal dari Lingkungan Sekitar Sumber: Istimewa/harahapstories |
Sumber utama ajaran Islam terdiri atas dua
sumber utama, yaitu Al-Qur’an dan Hadis. Keduanya menjadi landasan dalam
menetapkan hukum, nilai, norma, serta menjadi pedoman bagi seorang Muslim dalam
menjalani kehidupan di dunia dan mencapai kebahagiaan di akhirat. Al-Qur’an
merupakan sumber utama ajaran Islam, sedangkan Hadis menempati posisi sebagai
sumber kedua yang memiliki kedudukan penting dalam memahami dan
mengimplementasikan ajaran Al-Qur’an.
Hadis merupakan segala sesuatu yang bersumber
dari Nabi Muhammad SAW., baik berupa perkataan (qauliyah), perbuatan (fi’liyah),
maupun ketetapan (taqririyah). Sebagai sumber kedua dalam ajaran Islam,
Hadis berfungsi memberikan penjelasan, perincian, penguatan, serta contoh
praktis terhadap berbagai ajaran, hukum, nilai, dan norma yang terdapat dalam
Al-Qur’an. Oleh karena itu, Hadis tidak diposisikan untuk membatalkan
Al-Qur’an, melainkan menjelaskan dan melengkapi pemahaman terhadap kandungan
Al-Qur’an sehingga ajaran yang bersifat umum dapat dipahami dan diterapkan
secara lebih konkret dalam kehidupan.
Dalam konteks pendidikan Islam, Hadis juga
memiliki fungsi penting sebagai landasan dalam membentuk keimanan, kepribadian,
sikap, dan perilaku manusia. Hal tersebut menunjukkan bahwa kajian Hadis tidak
hanya berorientasi pada pemahaman terhadap teks, tetapi juga pada bagaimana
nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat membentuk manusia yang beriman
dan berakhlak. Dalam konteks tersebut, akidah dan akhlak menjadi dua aspek yang
saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Akidah berkaitan dengan keyakinan dan keimanan
seorang Muslim kepada Allah SWT., serta prinsip-prinsip keimanan lainnya.
Sementara itu, akhlak berkaitan dengan sikap, perbuatan, dan perilaku manusia
yang lahir dari keyakinan tersebut. Dengan demikian, akidah merupakan fondasi
internal, sedangkan akhlak merupakan manifestasi eksternal dari keyakinan. Dari
hubungan tersebut dapat dipahami bahwa pemahaman akidah yang benar idealnya
melahirkan akhlak yang baik (akhlakul karimah). Dalam hal ini, Hadis menjadi
salah satu rujukan penting untuk memahami bagaimana akidah dan akhlak
diwujudkan dalam kehidupan melalui perkataan, perbuatan, maupun ketetapan
Rasulullah SAW.
Paradigma
Teoantropoekosentris
Pembahasan Hadis Akidah Akhlak dalam konteks
UIN Syahada Padangsidimpuan tidak dapat dilepaskan dari Paradigma Teoantropoekosentris.
Paradigma ini merupakan kerangka keilmuan dan worldview yang menjadi
salah satu penciri khas keilmuan UIN Syahada Padangsidimpuan dalam pengembangan
Tridharma Perguruan Tinggi dan kurikulum pembelajaran. Oleh karena itu, proses
pembelajaran dan pengembangan keilmuan di lingkungan UIN Syahada
Padangsidimpuan perlu mengacu pada paradigma tersebut dengan mengintegrasikan
dimensi ketuhanan, kemanusiaan, dan lingkungan.
![]() |
| Piramida Keilmuan dalam Paradigma Teoantropoekosentris Sumber: RIP UIN Syahada Padangsidimpuan 2022-2024 |
Paradigma Teoantropoekosentris
merupakan gagasan intelektual yang dikembangkan oleh Prof. Dr. H. Ibrahim
Siregar, MCL., yang pernah menjabat sebagai Rektor pada masa STAIN dan IAIN
Padangsidimpuan. Gagasan tersebut sudah dikembangkan ketika beliau memimpin
IAIN Padangsidimpuan dan kemudian menjadi salah satu landasan keilmuan yang
digunakan dalam pengembangan UIN Syahada Padangsidimpuan setelah transformasi
kelembagaan IAIN Padangsidimpuan menjadi universitas Islam negeri.
Secara etimologis, istilah Teoantropoekosentris
terdiri atas tiga unsur utama, yaitu teo, antropo, dan eko, serta
unsur penguat sentris. Kata teo berasal dari bahasa Yunani theos yang
berarti Tuhan atau ketuhanan. Antropo berasal dari anthropos yang
berarti manusia. Sementara itu, eko berkaitan dengan oikos yang
berarti rumah, tempat tinggal, atau lingkungan. Adapun sentris bermakna
pusat. Secara konseptual, istilah tersebut menggambarkan suatu pendekatan yang
memandang kehidupan secara terpadu melalui tiga dimensi utama, yaitu ketuhanan,
manusia, dan lingkungan.
Dalam paradigma ini, dimensi ketuhanan disebut
al-ilahiyah, yang menempatkan Allah SWT. sebagai pusat dan sumber
kehidupan serta sumber utama nilai dan pengetahuan. Dimensi manusia disebut al-insaniyah,
yang menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki akal, potensi, tanggung
jawab, dan amanah sebagai khalifah di muka bumi. Sementara itu, dimensi
lingkungan atau alam disebut al-kauniyah, yang menunjukkan alam semesta
sebagai ciptaan Allah SWT., ruang kehidupan manusia, sekaligus sumber
pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan. Ketiga dimensi tersebut tidak
berdiri sendiri, melainkan saling berhubungan dan membentuk suatu kesatuan
dalam memahami kehidupan dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Landasan
Filosofis Paradigma Teoantropoekosentris
Secara filosofis, Paradigma Teoantropoekosentris
berangkat antara lain dari pemaknaan terhadap QS. Al-Baqarah [2]: 30 mengenai
manusia sebagai khalifah di muka bumi dan QS. Fussilat [41]: 53 mengenai
tanda-tanda kekuasaan Allah SWT., yang terdapat pada alam dan diri manusia.
Dari pemaknaan tersebut, muncul hubungan antara al-ilahiyah, al-insaniyah,
dan al-kauniyah yang kemudian dikembangkan dalam kerangka
Teoantropoekosentris.
Paradigma ini dapat dipahami sebagai bentuk
integrasi keilmuan yang berpusat pada hubungan antara Tuhan, manusia, dan
lingkungan. Dimensi ketuhanan berkaitan dengan al-‘ulum al-ilahiyah atau
ilmu-ilmu yang bersumber dari wahyu (al-‘ulum al-naqliyah). Dimensi
manusia berkaitan dengan al-‘ulum al-insaniyah atau ilmu-ilmu yang
berkembang melalui kemampuan rasional manusia (al-‘ulum al-‘aqliyah).
Sementara itu, dimensi alam dan lingkungan berkaitan dengan al-‘ulum
al-bi’ah atau al-‘ulum ath-thabi’iyah, yaitu ilmu-ilmu yang
mempelajari alam dan fenomena kehidupan.
Dalam perspektif tersebut, ilmu pengetahuan
tidak dipahami secara dikotomis antara ilmu agama dan ilmu umum. Perbedaan
bidang keilmuan lebih merupakan bentuk klasifikasi dan spesifikasi objek
kajian, bukan pemisahan sumber kebenaran secara mutlak. Pada masa perkembangan
intelektual Islam klasik, berbagai bidang ilmu telah dikembangkan dengan klasifikasi
yang berbeda-beda. Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan alam, misalnya, berkembang
dalam tradisi al-‘ulum ath-thabi’iyah, sedangkan ilmu yang berkaitan
dengan manusia berkembang dalam ranah al-‘ulum al-insaniyah. Demikian
pula ilmu-ilmu keagamaan berkembang dalam ranah al-‘ulum al-naqliyah.
Dengan demikian, klasifikasi ilmu bertujuan
untuk mempermudah pengembangan dan pendalaman bidang ilmu tertentu, bukan
menciptakan sekat atau dikotomi yang mempertentangkan satu ilmu dengan ilmu
lainnya. Dalam perspektif Islam, seluruh ilmu pada hakikatnya bersumber dari
Allah SWT. dan seharusnya diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan serta
memperkuat kesadaran manusia terhadap kebesaran-Nya.
Integrasi
Ayat Qauliyah, Nafsiyah, dan Kauniyah
Pemikiran tersebut juga dapat dipahami melalui
konsep ayat qauliyah, ayat nafsiyah, dan ayat kauniyah.
Ayat qauliyah merujuk pada wahyu tertulis yang terdapat dalam Al-Qur’an.
Ayat nafsiyah berkaitan dengan manusia dan berbagai potensi serta
realitas yang terdapat dalam dirinya. Sementara itu, ayat kauniyah
merujuk pada tanda-tanda kebesaran Allah SWT. yang terdapat di alam semesta.
Dalam perspektif ontologis, ketiga dimensi
tersebut memiliki hubungan yang integratif, karena sama-sama menjadi bagian
dari realitas yang dapat dikaji untuk memperoleh pengetahuan. Dalam perspektif
epistemologis, hubungan tersebut bersifat interkonektif dan komplementer, yaitu
saling terhubung dan saling melengkapi dalam proses memperoleh serta
mengembangkan pengetahuan. Adapun dari sisi aksiologis, integrasi tersebut
diarahkan agar ilmu pengetahuan tidak hanya menghasilkan kecerdasan
intelektual, tetapi juga nilai moral, spiritual, sosial, dan ekologis.
Pemahaman tersebut juga dikemukakan Anhar
dalam artikel “Teoantropoekosentris:
Menafsir Paradigma Keilmuan IAIN Padangsidimpuan”. Paradigma Teoantropoekosentris
dapat dipahami sebagai pengembangan konsep trilogis keilmuan yang mencakup
ketuhanan, kemanusiaan, dan sosial/lingkungan, yang memiliki keterkaitan dengan
konsep hablun min Allah, hablun min an-nas, dan hablun min
al-‘alam.
Gagasan integrasi keilmuan sebenarnya memiliki
akar yang panjang dalam tradisi intelektual Islam. Al-Kindi, misalnya,
mengembangkan gagasan talfiq yang menekankan keterhubungan antara
berbagai gagasan dan bidang pengetahuan. Al-Farabi melalui Ihsa’ al-‘Ulum
memberikan klasifikasi ilmu yang menunjukkan keluasan tradisi keilmuan Islam.
Sementara itu, Al-Khawarizmi juga memberikan klasifikasi bidang ilmu yang
membedakan ilmu-ilmu syar’iyyah dan ilmu-ilmu yang berkembang dalam
tradisi keilmuan lainnya. Klasifikasi tersebut lebih tepat dipahami sebagai
upaya spesifikasi dan sistematisasi bidang ilmu, bukan sebagai upaya
menciptakan pertentangan antara ilmu agama dan ilmu umum.
Oleh karena itu, klasifikasi ilmu seharusnya
tidak melahirkan pandangan bahwa ilmu tertentu hanya berguna untuk kehidupan
dunia, sedangkan ilmu lainnya hanya berguna untuk kehidupan akhirat. Semua ilmu
memiliki kedudukan dan manfaat sesuai dengan objek, metode, serta tujuan
penggunaannya. Dalam kerangka Islam, ilmu pengetahuan seharusnya diarahkan
untuk menghasilkan kemaslahatan dan mendekatkan manusia kepada kesadaran akan
kebesaran Allah SWT.
Hadis
Akidah Akhlak dalam Paradigma Teoantropoekosentris
Dalam konteks tersebut, Hadis Akidah Akhlak
dapat dipahami sebagai proses pembelajaran yang mengintegrasikan kajian
hadis-hadis yang berkaitan dengan akidah dan akhlak dengan realitas kehidupan
manusia. Tujuan pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan mahasiswa untuk
mengetahui dan memahami hadis, tetapi berkembang pada kemampuan menganalisis,
menginternalisasi, dan mengaplikasikan nilai-nilai hadis dalam kehidupan nyata.
Objek utama mata kuliah Hadis Akidah Akhlak
adalah akidah dan akhlak yang bersumber dari hadis Nabi Muhammad SAW. Sementara
itu, ruang lingkupnya dapat dikembangkan melalui tiga dimensi Paradigma
Teoantropoekosentris, yaitu al-ilahiyah, al-insaniyah, dan al-kauniyah.
Dengan demikian, pembelajaran Hadis Akidah Akhlak tidak hanya membahas hubungan
manusia dengan Allah SWT., (hablun min Allah), tetapi juga hubungan
manusia dengan sesama (hablun min an-nas) dan hubungan manusia dengan
alam (hablun min al-‘alam).
Ketiga dimensi tersebut membentuk hubungan
yang saling mengikat, terhubung, dan melengkapi. Dari dimensi teosentris, Hadis
menjadi salah satu sumber ajaran yang memberikan landasan spiritual dan
normatif bagi kehidupan manusia. Dari dimensi antroposentris, manusia dipandang
sebagai khalifah yang memiliki tanggung jawab dalam membangun kehidupan sosial,
hukum, budaya, ekonomi, dan kemanusiaan berdasarkan nilai-nilai Islam.
Sementara itu, dari dimensi ekosentris, alam dipandang sebagai ciptaan dan amanah
Allah SWT. yang harus dipelihara dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
Dimensi ekosentris tersebut mencakup
keseluruhan lingkungan kehidupan, baik unsur biotik seperti manusia, hewan,
tumbuhan, dan mikroorganisme, maupun unsur abiotik seperti air, udara, tanah,
cahaya matahari, dan suhu. Kesadaran ekologis dalam perspektif ini bukan
sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab manusia
sebagai khalifah dalam mewujudkan kemaslahatan dan rahmatan lil-‘alamin.
Tujuan
Akhir Pembelajaran Hadis Akidah Akhlak
Berdasarkan uraian tersebut, pembelajaran
Hadis Akidah Akhlak dalam perspektif Paradigma Teoantropoekosentris memiliki
orientasi yang lebih luas daripada sekadar penguasaan materi hadis.
Pembelajaran diarahkan agar mahasiswa mampu mengetahui, memahami, menganalisis,
menghayati, dan mengaktualisasikan nilai-nilai hadis dalam kehidupan.
Aktualisasi tersebut tercermin dalam
peningkatan keimanan kepada Allah SWT., pembentukan akhlakul karimah,
penghormatan terhadap sesama manusia, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Dengan kata lain, keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur dari aspek
kognitif berupa penguasaan pengetahuan, tetapi juga dari aspek afektif dan
psikomotorik yang tampak dalam sikap dan perilaku.
Pada akhirnya, Hadis Akidah Akhlak dalam
perspektif Paradigma Teoantropoekosentris diarahkan untuk membentuk
manusia yang memiliki keimanan yang kuat, akhlak yang mulia, kepedulian sosial,
dan tanggung jawab ekologis. Integrasi antara ketuhanan, kemanusiaan, dan
lingkungan tersebut menjadi landasan untuk mewujudkan manusia yang tidak hanya
saleh secara spiritual, tetapi juga saleh secara sosial dan ekologis, sehingga
mampu menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi dan mewujudkan nilai rahmatan
lil-‘alamin.

