Hadis Akidah Akhlak dalam Perspektif Paradigma Teoantropoekosentris

Aidul Azhari Harahap, M.Pd. • • 1 min read •

Ilustrasi. Pembelajaran Akidah dan Akhlak dapat Berasal dari Lingkungan Sekitar
Sumber: Istimewa/harahapstories

Sumber utama ajaran Islam terdiri atas dua sumber utama, yaitu Al-Qur’an dan Hadis. Keduanya menjadi landasan dalam menetapkan hukum, nilai, norma, serta menjadi pedoman bagi seorang Muslim dalam menjalani kehidupan di dunia dan mencapai kebahagiaan di akhirat. Al-Qur’an merupakan sumber utama ajaran Islam, sedangkan Hadis menempati posisi sebagai sumber kedua yang memiliki kedudukan penting dalam memahami dan mengimplementasikan ajaran Al-Qur’an.

Hadis merupakan segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW., baik berupa perkataan (qauliyah), perbuatan (fi’liyah), maupun ketetapan (taqririyah). Sebagai sumber kedua dalam ajaran Islam, Hadis berfungsi memberikan penjelasan, perincian, penguatan, serta contoh praktis terhadap berbagai ajaran, hukum, nilai, dan norma yang terdapat dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, Hadis tidak diposisikan untuk membatalkan Al-Qur’an, melainkan menjelaskan dan melengkapi pemahaman terhadap kandungan Al-Qur’an sehingga ajaran yang bersifat umum dapat dipahami dan diterapkan secara lebih konkret dalam kehidupan.

Dalam konteks pendidikan Islam, Hadis juga memiliki fungsi penting sebagai landasan dalam membentuk keimanan, kepribadian, sikap, dan perilaku manusia. Hal tersebut menunjukkan bahwa kajian Hadis tidak hanya berorientasi pada pemahaman terhadap teks, tetapi juga pada bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat membentuk manusia yang beriman dan berakhlak. Dalam konteks tersebut, akidah dan akhlak menjadi dua aspek yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.

Akidah berkaitan dengan keyakinan dan keimanan seorang Muslim kepada Allah SWT., serta prinsip-prinsip keimanan lainnya. Sementara itu, akhlak berkaitan dengan sikap, perbuatan, dan perilaku manusia yang lahir dari keyakinan tersebut. Dengan demikian, akidah merupakan fondasi internal, sedangkan akhlak merupakan manifestasi eksternal dari keyakinan. Dari hubungan tersebut dapat dipahami bahwa pemahaman akidah yang benar idealnya melahirkan akhlak yang baik (akhlakul karimah). Dalam hal ini, Hadis menjadi salah satu rujukan penting untuk memahami bagaimana akidah dan akhlak diwujudkan dalam kehidupan melalui perkataan, perbuatan, maupun ketetapan Rasulullah SAW.

Paradigma Teoantropoekosentris

Pembahasan Hadis Akidah Akhlak dalam konteks UIN Syahada Padangsidimpuan tidak dapat dilepaskan dari Paradigma Teoantropoekosentris. Paradigma ini merupakan kerangka keilmuan dan worldview yang menjadi salah satu penciri khas keilmuan UIN Syahada Padangsidimpuan dalam pengembangan Tridharma Perguruan Tinggi dan kurikulum pembelajaran. Oleh karena itu, proses pembelajaran dan pengembangan keilmuan di lingkungan UIN Syahada Padangsidimpuan perlu mengacu pada paradigma tersebut dengan mengintegrasikan dimensi ketuhanan, kemanusiaan, dan lingkungan.

Piramida Keilmuan dalam Paradigma Teoantropoekosentris
Sumber: RIP UIN Syahada Padangsidimpuan 2022-2024


Paradigma Teoantropoekosentris merupakan gagasan intelektual yang dikembangkan oleh Prof. Dr. H. Ibrahim Siregar, MCL., yang pernah menjabat sebagai Rektor pada masa STAIN dan IAIN Padangsidimpuan. Gagasan tersebut sudah dikembangkan ketika beliau memimpin IAIN Padangsidimpuan dan kemudian menjadi salah satu landasan keilmuan yang digunakan dalam pengembangan UIN Syahada Padangsidimpuan setelah transformasi kelembagaan IAIN Padangsidimpuan menjadi universitas Islam negeri.

Secara etimologis, istilah Teoantropoekosentris terdiri atas tiga unsur utama, yaitu teo, antropo, dan eko, serta unsur penguat sentris. Kata teo berasal dari bahasa Yunani theos yang berarti Tuhan atau ketuhanan. Antropo berasal dari anthropos yang berarti manusia. Sementara itu, eko berkaitan dengan oikos yang berarti rumah, tempat tinggal, atau lingkungan. Adapun sentris bermakna pusat. Secara konseptual, istilah tersebut menggambarkan suatu pendekatan yang memandang kehidupan secara terpadu melalui tiga dimensi utama, yaitu ketuhanan, manusia, dan lingkungan.

Dalam paradigma ini, dimensi ketuhanan disebut al-ilahiyah, yang menempatkan Allah SWT. sebagai pusat dan sumber kehidupan serta sumber utama nilai dan pengetahuan. Dimensi manusia disebut al-insaniyah, yang menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki akal, potensi, tanggung jawab, dan amanah sebagai khalifah di muka bumi. Sementara itu, dimensi lingkungan atau alam disebut al-kauniyah, yang menunjukkan alam semesta sebagai ciptaan Allah SWT., ruang kehidupan manusia, sekaligus sumber pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan. Ketiga dimensi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling berhubungan dan membentuk suatu kesatuan dalam memahami kehidupan dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Landasan Filosofis Paradigma Teoantropoekosentris

Secara filosofis, Paradigma Teoantropoekosentris berangkat antara lain dari pemaknaan terhadap QS. Al-Baqarah [2]: 30 mengenai manusia sebagai khalifah di muka bumi dan QS. Fussilat [41]: 53 mengenai tanda-tanda kekuasaan Allah SWT., yang terdapat pada alam dan diri manusia. Dari pemaknaan tersebut, muncul hubungan antara al-ilahiyah, al-insaniyah, dan al-kauniyah yang kemudian dikembangkan dalam kerangka Teoantropoekosentris.

Paradigma ini dapat dipahami sebagai bentuk integrasi keilmuan yang berpusat pada hubungan antara Tuhan, manusia, dan lingkungan. Dimensi ketuhanan berkaitan dengan al-‘ulum al-ilahiyah atau ilmu-ilmu yang bersumber dari wahyu (al-‘ulum al-naqliyah). Dimensi manusia berkaitan dengan al-‘ulum al-insaniyah atau ilmu-ilmu yang berkembang melalui kemampuan rasional manusia (al-‘ulum al-‘aqliyah). Sementara itu, dimensi alam dan lingkungan berkaitan dengan al-‘ulum al-bi’ah atau al-‘ulum ath-thabi’iyah, yaitu ilmu-ilmu yang mempelajari alam dan fenomena kehidupan.

Dalam perspektif tersebut, ilmu pengetahuan tidak dipahami secara dikotomis antara ilmu agama dan ilmu umum. Perbedaan bidang keilmuan lebih merupakan bentuk klasifikasi dan spesifikasi objek kajian, bukan pemisahan sumber kebenaran secara mutlak. Pada masa perkembangan intelektual Islam klasik, berbagai bidang ilmu telah dikembangkan dengan klasifikasi yang berbeda-beda. Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan alam, misalnya, berkembang dalam tradisi al-‘ulum ath-thabi’iyah, sedangkan ilmu yang berkaitan dengan manusia berkembang dalam ranah al-‘ulum al-insaniyah. Demikian pula ilmu-ilmu keagamaan berkembang dalam ranah al-‘ulum al-naqliyah.

Dengan demikian, klasifikasi ilmu bertujuan untuk mempermudah pengembangan dan pendalaman bidang ilmu tertentu, bukan menciptakan sekat atau dikotomi yang mempertentangkan satu ilmu dengan ilmu lainnya. Dalam perspektif Islam, seluruh ilmu pada hakikatnya bersumber dari Allah SWT. dan seharusnya diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan serta memperkuat kesadaran manusia terhadap kebesaran-Nya.

Integrasi Ayat Qauliyah, Nafsiyah, dan Kauniyah

Pemikiran tersebut juga dapat dipahami melalui konsep ayat qauliyah, ayat nafsiyah, dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah merujuk pada wahyu tertulis yang terdapat dalam Al-Qur’an. Ayat nafsiyah berkaitan dengan manusia dan berbagai potensi serta realitas yang terdapat dalam dirinya. Sementara itu, ayat kauniyah merujuk pada tanda-tanda kebesaran Allah SWT. yang terdapat di alam semesta.

Dalam perspektif ontologis, ketiga dimensi tersebut memiliki hubungan yang integratif, karena sama-sama menjadi bagian dari realitas yang dapat dikaji untuk memperoleh pengetahuan. Dalam perspektif epistemologis, hubungan tersebut bersifat interkonektif dan komplementer, yaitu saling terhubung dan saling melengkapi dalam proses memperoleh serta mengembangkan pengetahuan. Adapun dari sisi aksiologis, integrasi tersebut diarahkan agar ilmu pengetahuan tidak hanya menghasilkan kecerdasan intelektual, tetapi juga nilai moral, spiritual, sosial, dan ekologis.

Pemahaman tersebut juga dikemukakan Anhar dalam artikel “Teoantropoekosentris: Menafsir Paradigma Keilmuan IAIN Padangsidimpuan”. Paradigma Teoantropoekosentris dapat dipahami sebagai pengembangan konsep trilogis keilmuan yang mencakup ketuhanan, kemanusiaan, dan sosial/lingkungan, yang memiliki keterkaitan dengan konsep hablun min Allah, hablun min an-nas, dan hablun min al-‘alam.

Gagasan integrasi keilmuan sebenarnya memiliki akar yang panjang dalam tradisi intelektual Islam. Al-Kindi, misalnya, mengembangkan gagasan talfiq yang menekankan keterhubungan antara berbagai gagasan dan bidang pengetahuan. Al-Farabi melalui Ihsa’ al-‘Ulum memberikan klasifikasi ilmu yang menunjukkan keluasan tradisi keilmuan Islam. Sementara itu, Al-Khawarizmi juga memberikan klasifikasi bidang ilmu yang membedakan ilmu-ilmu syar’iyyah dan ilmu-ilmu yang berkembang dalam tradisi keilmuan lainnya. Klasifikasi tersebut lebih tepat dipahami sebagai upaya spesifikasi dan sistematisasi bidang ilmu, bukan sebagai upaya menciptakan pertentangan antara ilmu agama dan ilmu umum.

Oleh karena itu, klasifikasi ilmu seharusnya tidak melahirkan pandangan bahwa ilmu tertentu hanya berguna untuk kehidupan dunia, sedangkan ilmu lainnya hanya berguna untuk kehidupan akhirat. Semua ilmu memiliki kedudukan dan manfaat sesuai dengan objek, metode, serta tujuan penggunaannya. Dalam kerangka Islam, ilmu pengetahuan seharusnya diarahkan untuk menghasilkan kemaslahatan dan mendekatkan manusia kepada kesadaran akan kebesaran Allah SWT.

Hadis Akidah Akhlak dalam Paradigma Teoantropoekosentris

Dalam konteks tersebut, Hadis Akidah Akhlak dapat dipahami sebagai proses pembelajaran yang mengintegrasikan kajian hadis-hadis yang berkaitan dengan akidah dan akhlak dengan realitas kehidupan manusia. Tujuan pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan mahasiswa untuk mengetahui dan memahami hadis, tetapi berkembang pada kemampuan menganalisis, menginternalisasi, dan mengaplikasikan nilai-nilai hadis dalam kehidupan nyata.

Objek utama mata kuliah Hadis Akidah Akhlak adalah akidah dan akhlak yang bersumber dari hadis Nabi Muhammad SAW. Sementara itu, ruang lingkupnya dapat dikembangkan melalui tiga dimensi Paradigma Teoantropoekosentris, yaitu al-ilahiyah, al-insaniyah, dan al-kauniyah. Dengan demikian, pembelajaran Hadis Akidah Akhlak tidak hanya membahas hubungan manusia dengan Allah SWT., (hablun min Allah), tetapi juga hubungan manusia dengan sesama (hablun min an-nas) dan hubungan manusia dengan alam (hablun min al-‘alam).

Ketiga dimensi tersebut membentuk hubungan yang saling mengikat, terhubung, dan melengkapi. Dari dimensi teosentris, Hadis menjadi salah satu sumber ajaran yang memberikan landasan spiritual dan normatif bagi kehidupan manusia. Dari dimensi antroposentris, manusia dipandang sebagai khalifah yang memiliki tanggung jawab dalam membangun kehidupan sosial, hukum, budaya, ekonomi, dan kemanusiaan berdasarkan nilai-nilai Islam. Sementara itu, dari dimensi ekosentris, alam dipandang sebagai ciptaan dan amanah Allah SWT. yang harus dipelihara dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab.

Dimensi ekosentris tersebut mencakup keseluruhan lingkungan kehidupan, baik unsur biotik seperti manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme, maupun unsur abiotik seperti air, udara, tanah, cahaya matahari, dan suhu. Kesadaran ekologis dalam perspektif ini bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah dalam mewujudkan kemaslahatan dan rahmatan lil-‘alamin.

Tujuan Akhir Pembelajaran Hadis Akidah Akhlak

Berdasarkan uraian tersebut, pembelajaran Hadis Akidah Akhlak dalam perspektif Paradigma Teoantropoekosentris memiliki orientasi yang lebih luas daripada sekadar penguasaan materi hadis. Pembelajaran diarahkan agar mahasiswa mampu mengetahui, memahami, menganalisis, menghayati, dan mengaktualisasikan nilai-nilai hadis dalam kehidupan.

Aktualisasi tersebut tercermin dalam peningkatan keimanan kepada Allah SWT., pembentukan akhlakul karimah, penghormatan terhadap sesama manusia, serta kepedulian terhadap lingkungan. Dengan kata lain, keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur dari aspek kognitif berupa penguasaan pengetahuan, tetapi juga dari aspek afektif dan psikomotorik yang tampak dalam sikap dan perilaku.

Pada akhirnya, Hadis Akidah Akhlak dalam perspektif Paradigma Teoantropoekosentris diarahkan untuk membentuk manusia yang memiliki keimanan yang kuat, akhlak yang mulia, kepedulian sosial, dan tanggung jawab ekologis. Integrasi antara ketuhanan, kemanusiaan, dan lingkungan tersebut menjadi landasan untuk mewujudkan manusia yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga saleh secara sosial dan ekologis, sehingga mampu menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi dan mewujudkan nilai rahmatan lil-‘alamin.