Keimanan dan Relasinya dalam Kehidupan: Memaknai Hadis Iman dan Pengaplikasiannya
![]() |
| Ilustrasi. Keimanan Manusia dan Relasinya dalam Kehidupan Sumber: pixabay.com/editing chatgpt.com |
Pembahasan ini mencakup hakikat iman, hubungan
antara iman, Islam dan Ihsan, serta hubungan iman dengan perilaku sehari-hari
dan kehidupan sosial (keluarga, teman, tetangga dan tamu). Dalam kitab Fathul
Baari Bab Iman karangan Ibnu hajar Al-Asqalani atau dengan nama lengkap Syihabuddin
Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad mengatakan “iman” adalah perkataan dan
perbuatan yang dapat bertambah maupun menurun (bersifat fluktuatif). Dasar
pemikirannya ini diambil dari Qs. Al-Fath/48: 4, Qs. Al-Kahfi/18: 13, Qs.
Maryam/19: 76, Qs. Muhammad/47: 17. Qs. Al-Mudatstsir/74: 31, Qs. At-Taubah/9:
124, Qs. Ali Imran/3: 173, dan Qs. Al-Ahzab/33: 22. Bahkan menurutnya,
mencintai dan membenci itu karena Allah adalah bagian dari tanda-tanda keimanan
yang terdapat dalam diri manusia.
Iman secara bahasa berarti percaya atau
membenarkan, secara bahasa kata “iman” berasal dari bahasa Arab yaitu amana,
yu’minu, imanan. Sedangkan secara istilah, iman adalah keyakinan dalam hati
(tashdiq), diucapkan dengan lisan (iqrar), dan diamalkan dengan
perbuatan (amal). Maka, iman bukan hanya sekedar pengakuan dan
pengucapan, namun juga pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat
tingkatan keimanan dalam hal ini yaitu pengakuan berada pada tempat paling
mendasar, kemudian mengucapkan atau menyampaikan atas keimanan diri itu
sendiri, kemudian amal perbuatan yang sesuai dengan ketentuan dan aturan Allah
SWT.
Disinilah terdapat hubungan erat antara iman,
Islam dan ihsan. Keimanan menjadikan manusia meyakini Allah SWT sebagai Tuhan
yang Esa dan Nabi Muhammad SAW adalah utusannya dan tidak ada utusan setelahnya
serta keimanan lainnya. Pengakuan ini menjadikan manusia masuk dalam Islam,
sehingga segala bentuk perkataan dan perbuatan serta niat harus dilandaskan
atas pengharapan kepada Allah SWT semata, serta segala niat, perkataan, dan
pebuatan diketahui Allah SWT dimanapun dan kapanpun. Dalam sebuah riwayat
mashur, yang dikenal sebagai hadis Jibril a.s., yang mengajarkan tentang iman,
Islam dan ihsan kepada manusia, hadis tersebut berbunyi sebagai berikut:
عَنْ عُمَرَ رضي الله عنه أَيضاً
قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلّم
ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ
سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا
أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ
رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ:
يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه
وسلم: (الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ
مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ
رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً. قَالَ:
صَدَقْتَ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ
الإِيْمَانِ، قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ
وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآَخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ
اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ:
فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسئُوُلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ
السَّائِلِ قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ: أَنْ تَلِدَ
الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ
الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيَّاً ثُمَّ
قَالَ: يَا عُمَرُ أتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ
أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ.
رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Artinya:
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu pula dia berkata; pada suatu
hari ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian sangat putih, dan
rambutnya sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan,
dan tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya, kemudian ia duduk di hadapan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendekatkan lututnya lalu
meletakkan kedua tangannya di atas pahanya, seraya berkata: ‘Wahai Muhammad
jelaskan kepadaku tentang Islam?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab: ”Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang
berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya,
engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan haji ke
Baitullah Al Haram jika engkau mampu mengadakan perjalanan ke sana”.
Laki-laki tersebut berkata: ‘Engkau benar.’ Maka kami pun terheran-heran
padanya, dia yang bertanya dan dia sendiri yang membenarkan jawabannya. Dia
berkata lagi: “Jelaskan kepadaku tentang iman?” Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam menjawab: “(Iman itu adalah) Engkau beriman kepada
Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir
serta engkau beriman kepada takdir baik dan buruk”. Ia berkata: ‘Engkau
benar.’ Kemudian laki-laki tersebut bertanya lagi: ‘Jelaskan kepadaku
tentang ihsan?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Ihsan
adalah) Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Kalaupun
engkau tidak bisa melihat-Nya, sungguh Diamelihatmu”. Dia berkata: “Beritahu
kepadaku kapan terjadinya kiamat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab: “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui dari yang bertanya”.
Ia berkata: “Jelaskan kepadaku tanda-tandanya!” Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata: “Jika seorang budak wanita melahirkan tuannya
dan jika engkau mendapati penggembala kambing yang tidak beralas kaki dan tidak
pakaian saling berlomba dalam meninggikan bangunan”. Umar radhiyallahu
‘anhu berkata: ‘Kemudian laki-laki itu pergi, aku pun terdiam sejenak.’
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku: “Wahai
‘Umar, tahukah engkau siapa orang tadi?” Aku pun menjawab: “Allah dan Rasul-Nya
lebih tahu.” Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda: “Dia adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan agama
ini kepada kalian.” (HR Muslim)
Hadis ini menjadi landasan utama dalam
penegasan rukun Islam dan rukun iman dalam Islam serta konsep penting ihsan
bahwa Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha Melihat serta menjadi dasar bagi
manusia dalam beramal. Sehingga dalam pengaplikasiannya, iman tidak hanya
menjadi dasar dalam penetapan keislaman seseorang, melainkan juga menjadi tolak
ukur dalam perbuatan serta perkataan dalam kehidupannya baik itu dalam bentuk
interaksi terhadap keluarga dan orang lain seperti teman, tetangga dan tamu.
Semua hal ini termaktub dalam hadis yang menjadi landasan dalam perbuatan baik
terhadap diri sendiri, maupun orang lain.
Salah satunya adalah keluarga. Keluarga
merupakan unit paling kecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu, anak,
kakak, abang dan hubungan lainnya dengan keluarga dari ayah dan ibu serta
mertua. Salah satu hal penting dalam keluarga ialah menjaga kerukunan dan
hubungan yang harmonis, salah satunya dengan tetap menjaga tali silaturahmi.
Dalam sebuah hadis yang disebutkan bahwa:
حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ
الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ
النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ " مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ ".
Artinya:
Nabi ﷺ
bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia
memuliakan tamunya dengan sebaik-baiknya. Dan barang siapa beriman kepada Allah
dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi (yakni menjaga
hubungan yang baik dengan sanak kerabat/keluarganya). Dan barang siapa beriman
kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR
Bukhari).
Mejaga hubungan dengan keluarga menjadi bagian
dari iman, salah satunya dengan menjaga tali silaturahmi. Selain menjadi bagian
dari tanda iman, menjaga silaturahmi juga bagian dari melapangkan rezeki. Salah
satunya dalam hadis yang berbunyi:
حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى
التُّجِيبِيُّ، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ
شِهَابٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ
" مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ فِي أَثَرِهِ
فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ ."
Artinya:
Anas bin Malik melaporkan: Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa
yang ingin rezekinya dilapangkan atau umurnya dipanjangkan, hendaklah ia
menyambung silaturahmi”. (HR Muslim).
Hadis di atas membicarakan bahwa dengan
menjaga tali silaturahmi dapat melapangkan rezeki dan dapat memanjangkan umur.
Selain menjaga hubungan dengan keluarga atau kerabat, dalam Islam juga penting
dalam menjaga hubungan dengan teman, tetangga dan memuliakan tamu. Dalam sebuah
hadis disebutkan:
حَدَّثَنَا
أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ
بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ
ﷺ ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ الْهَمْدَانِيُّ، - وَاللَّفْظُ لَهُ
- حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ بُرَيْدٍ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي
مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ " إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ
وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ
الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ
تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ
ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً .
Artinya:
Abu Musa melaporkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk
adalah seperti pemilik minyak wangi dan orang (tukang besi) yang meniup
bellows, dan pemilik minyak wangi akan menawarkan kepadamu secara gratis atau
kamu akan membelinya darinya atau kamu akan mencium baunya yang harum,
sedangkan orang yang meniup bellows akan membakar pakaianmu atau kamu akan
mencium baunya yang busuk”. (HR Muslim).
Hadis di atas teman yang baik dalam pergaulan,
apabila berteman dengan orang baik maka kebaikannya akan didapatkan begitu juga
sebaliknya, dalam hadis lain disebutkan seputar tetangga dan memuliakan tamu
yang berbunyi sebagai berikut:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
يُوسُفَ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ، عَنْ
أَبِي شُرَيْحٍ الْعَدَوِيِّ، قَالَ سَمِعَتْ أُذُنَاىَ، وَأَبْصَرَتْ، عَيْنَاىَ
حِينَ تَكَلَّمَ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ " مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ ". قَالَ وَمَا
جَائِزَتُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ " يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَالضِّيَافَةُ
ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ، فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلِكَ فَهْوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ، وَمَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya:
Dari Abu Shuraih Al-Adawi: Telingaku mendengar dan mataku melihat
Nabi ﷺ
ketika beliau berbicara, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari
akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada
Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya dengan memberikan
haknya." Ditanya, "Apa haknya, wahai Rasulullah?" Beliau
menjawab, "(Dihormati) selama satu hari dan satu malam, dan tamu berhak
dihormati selama tiga hari (dengan makanan biasa), dan jika ia tinggal lebih
dari itu, maka apa yang diberikan dianggap sebagai sedekah. Dan barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau
diam." (HR Bukhari).
Keimanan tidak hanya berkaitan dengan mengakui
bahwa Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan mengakui bahwa Muhammad SAW
sebagai Rasul-Nya. Namun, terdapat nilai pembentuk untuk menjadi seorang
manusia yang beriman sepatutnya memiliki nilai kebaikan dalam dirinya. Ihsan bukan
hanya persoalan menjadikan manusia menjadi takut dalam berbuat hal buruk, tapi
menjadi monitor diri bahwa segala sesuatu diketahui oleh Allah SWT dengan baik.
Ihsan menjadi monitor bahwa manusia memahami
setiap perbuatan mendapat pertungjawaban atas perbuatannya. Hal ini menjadikan
manusia memiliki nilai kepribadian yang semakin baik tanpa harus merasa takut,
namun tertanam dalam dirinya bahwa perbuatan baik sudah seharusnya menjadi
perbuatan yang harus dilaksanakan dalam kehidupan. Wallahu A’lam.
