Transformasi Alternate Universe (AU) Perspektif Sejarah dan Perkembangannya
![]() |
| Ilustrasi. Alternate Universe, Sebuah Perubahan Imajinasi Terhadap Tokoh yang Dituangkan dalam Sebuah Cerita yang Berbeda dari Keadaan dan Kondisi dari Tokoh yang Sebenarnya Sumber: claude.ai |
Di tengah derasnya perkembangan media
sosial yang terjadi saat ini, muncul berbagai bentuk baru dalam cara manusia
bercerita. Cerita tidak lagi selalu hadir dalam bentuk novel, cerpen, atau
buku. Ia dapat muncul sebagai utas di X, percakapan WhatsApp, unggahan Instagram,
video TikTok, bahkan melalui akun fiktif yang seolah-olah benar-benar dimiliki
oleh tokoh cerita.
Bagi
pengguna media sosial, terutama generasi yang akrab dengan fandom, istilah AU
mungkin terasa sangat biasa. Di berbagai ruang digital, kita dapat menemukan
cerita yang menempatkan seorang idol sebagai mahasiswa, seorang aktor sebagai
barista, tokoh fiksi sebagai dokter, atau sekelompok karakter populer ke dalam
kehidupan yang sama sekali tidak terdapat dalam cerita aslinya. Cerita itu
bahkan dapat disampaikan bukan melalui narasi panjang, melainkan melalui
tangkapan layar percakapan, unggahan media sosial, komentar, pesan pribadi,
foto, video, hingga akun fiktif yang seolah-olah benar-benar dimiliki oleh
tokoh tersebut.
Bentuk
seperti ini tampak sangat modern. Namun, jika kita melihatnya lebih jauh ke
belakang, AU sesungguhnya memiliki akar yang jauh lebih panjang daripada usia
media sosial. Yang baru bukanlah keinginan manusia untuk membayangkan dunia
alternatif, melainkan cara keinginan tersebut diwujudkan, disebarkan, dan
dialami oleh pembaca melalui teknologi digital.
Apasih sebenarnya Alternate Universe?
Secara umum, Alternate Universe (AU) digunakan
sebagai penanda bagi karya penggemar yang mengubah satu atau beberapa unsur
dari dunia atau canon karya sumber. Perubahan tersebut dapat berupa pemindahan
tokoh ke latar yang berbeda, perubahan profesi, tujuan hidup, hubungan, genre,
maupun latar belakang mereka. Dalam praktik fandom, AU memiliki wilayah yang
sangat luas dan batas yang tidak selalu kaku. Karena itu, AU lebih tepat
dipahami sebagai sebuah cara untuk membuka kemungkinan baru terhadap sebuah
dunia cerita daripada sekadar genre yang mempunyai satu bentuk baku.
Gagasan mengenai dunia alternatif sendiri sebenarnya jauh lebih tua daripada istilah AU. Manusia telah lama gemar membayangkan kemungkinan sejarah yang berbeda, akhir cerita yang lain, tokoh yang mengambil keputusan berbeda, atau kehidupan yang seharusnya terjadi tetapi tidak pernah terjadi dalam cerita asli. Dalam konteks budaya penggemar modern, praktik semacam ini kemudian bertemu dengan perkembangan fanfiction, yaitu karya yang dibuat penggemar dengan menggunakan tokoh, dunia, atau unsur dari karya yang telah ada.
AU Tidak Lahir Bersama Media Sosial
Salah satu jejak penting dalam sejarah
budaya penggemar modern dapat ditemukan pada tradisi fanzine. Jauh sebelum
internet memungkinkan seseorang mempublikasikan cerita dalam hitungan detik,
para penggemar telah membuat dan menyebarkan publikasi mereka sendiri. Salah
satu contoh yang terkenal adalah Spockanalia, yang terbit pertama kali pada
September 1967 sebagai fanzine Star Trek. Isinya tidak hanya berupa komentar
mengenai serial tersebut, tetapi juga cerita, puisi, karya seni, dan berbagai
kontribusi penggemar.
Peristiwa seperti ini penting karena
menunjukkan perubahan mendasar dalam posisi penggemar. Mereka tidak lagi hanya
menjadi penonton atau pembaca yang menerima cerita sebagaimana diberikan oleh
pencipta aslinya. Mereka mulai mengambil dunia yang mereka sukai,
menafsirkannya kembali, memperluasnya, dan menciptakan karya baru berdasarkan
keterikatan mereka terhadap dunia tersebut. Dengan kata lain, budaya penggemar
mulai memperlihatkan sebuah pola yang kelak menjadi sangat penting dalam
perkembangan AU: penggemar tidak hanya mengonsumsi cerita, tetapi ikut
menciptakan makna dan karya baru dari cerita yang mereka konsumsi.
Di
sinilah sejarah AU bersentuhan dengan sejarah fanfiction. Namun, keduanya tidak
sepenuhnya identik. Tidak semua fanfiction merupakan AU, dan tidak semua AU
mempunyai bentuk yang sama. Fanfiction merupakan istilah yang lebih luas untuk
berbagai karya transformasional berbasis fandom, sedangkan AU merupakan salah
satu cara untuk mengubah atau menyusun kembali unsur-unsur dari karya sumber.
Karena itu, lebih tepat jika kita melihat AU sebagai salah satu cabang dari
tradisi kreatif yang lebih luas dalam budaya fanwork.
Dari Fanzine ke Internet ke Era Archive of
Our Own dan Budaya Fanwork
Ketika internet mulai berkembang,
perubahan besar terjadi. Jika sebelumnya cerita penggemar harus disebarkan
melalui media cetak atau komunitas terbatas, internet memungkinkan seseorang
mengunggah cerita dan membacanya dari tempat yang berbeda. Salah satu tonggak
penting adalah hadirnya FanFiction.Net, yang diluncurkan pada 15 Oktober 1998
oleh Xing Li. Platform tersebut menjadi arsip fanfiction lintas fandom dan
menyediakan ruang bagi pengguna untuk mengunggah karya, memberikan ulasan,
berkomunikasi, dan membangun komunitas.
Pada tahap berikutnya, perkembangan
komunitas fanwork juga melahirkan kesadaran mengenai pentingnya pelestarian
karya penggemar. Pada 2007, para penggemar mendirikan Organization for
Transformative Works (OTW), sebuah organisasi nirlaba yang antara lain
bertujuan melayani kepentingan penggemar, melestarikan sejarah fanwork, dan
menyediakan ruang bagi karya-karya transformasional. Salah satu proyek
terbesarnya adalah Archive of Our Own atau AO3, yang dikembangkan sebagai arsip
nirlaba dan nonkomersial untuk berbagai karya penggemar. AO3 mulai memasuki
limited beta pada 2008 dan dibuka untuk publik pada 2009.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa
fanfiction dan karya transformasional tidak lagi dapat dipandang semata-mata
sebagai aktivitas kecil di pinggir budaya populer. Ia telah berkembang menjadi
praktik budaya yang memiliki komunitas, arsip, sejarah, bahkan ruang akademik
untuk dipelajari. OTW sendiri meluncurkan jurnal Transformative Works and
Cultures pada 2008 sebagai jurnal akademik peer-reviewed yang berfokus pada
fanwork dan budaya penggemar.
Pada titik ini, kita dapat melihat sebuah
perubahan nilai yang cukup penting. Pada masa fanzine, karya penggemar terutama
menjadi sarana ekspresi dan komunikasi komunitas. Dengan hadirnya internet,
karya tersebut memperoleh nilai baru: aksesibilitas, distribusi yang lebih
luas, dan kesempatan bagi lebih banyak orang untuk menjadi pencipta. Ketika
platform digital semakin berkembang, nilai partisipasi menjadi semakin kuat.
Penggemar tidak lagi hanya membaca cerita, tetapi dapat memberikan komentar,
membangun komunitas, membuat karya turunan, dan ikut menentukan bagaimana
sebuah karya beredar dalam lingkungan digital.
Perubahan tersebut sejalan dengan konsep
participatory culture yang banyak digunakan dalam studi fandom. Henry Jenkins
menjelaskan fandom sebagai salah satu bentuk budaya partisipatif yang
memungkinkan penggemar memberikan respons kreatif terhadap teks populer
sekaligus melakukan negosiasi sosial terhadap makna dan nilai teks tersebut.
Dalam lingkungan jaringan digital, batas antara konsumen dan produsen juga menjadi
semakin kabur.
Indonesia pun tidak berada di luar
perkembangan ini. Penelitian mengenai fandom di Indonesia menunjukkan bahwa
aktivitas penggemar dapat berkembang menjadi bentuk budaya partisipatif melalui
penulisan fanfiction di platform digital seperti Wattpad. Dalam beberapa tahun
terakhir, AU juga mulai menjadi objek penelitian yang berkaitan dengan
komunikasi, fandom, budaya digital, dan interaksi pengguna media sosial.
Perubahan besar terjadi ketika cerita
mulai berpindah dari platform khusus fanfiction menuju media sosial. Twitter
atau X menjadi salah satu ruang yang menarik karena formatnya memungkinkan
cerita disusun dalam bentuk thread. Cerita tidak harus lagi ditampilkan sebagai
paragraf panjang. Ia dapat berupa: tweet → balasan → screenshot percakapan →
foto → tweet berikutnya → komentar → kelanjutan cerita.
Dalam perkembangan berikutnya, muncul
format seperti: fake chat; social media AU; Instagram AU; Twitter/X AU;
WhatsApp AU; atau TikTok AU.
Di Indonesia, penelitian mengenai AU di X
menunjukkan bahwa format ini telah berkembang menjadi ruang ekspresi dan
interaksi antara penulis dan pembaca. Salah satu penelitian bahkan menemukan
pola komunikasi yang bersifat sirkular antara penulis dan pembaca AU.
Penelitian lain terhadap komunitas AU di
Indonesia menunjukkan bahwa AU menjadi salah satu bentuk budaya partisipatif
dalam fandom, khususnya dalam komunitas NCTzen di aplikasi X. Dengan demikian,
AU modern tidak lagi hanya berbicara mengenai cerita, tetapi juga mengenai
interaksi sosial di sekitar cerita.
Di sinilah terjadi perubahan yang menarik. Dalam novel konvensional, pembaca memperoleh informasi melalui narasi yang disampaikan pengarang. Misalnya: Cerita Tokoh “Rion” yang sedang mengejar cinta dari “Celine”. Dalam AU media sosial, kisah tokoh dan pengalaman tersebut dapat disajikan dalam bentuk yang unik dan pembaca sedang dihipnotis mengikuti alur cerita yang padahal itu tidak pernah terjadi dalam diri tokoh yang diangkat.
![]() |
| Cuplikan AU dalam Media Sosial Instagram Sumber: Instagram/romeesnapss |
Kemudian muncul screenshot percakapan
pribadi. Pembaca tidak hanya memperoleh informasi melalui narasi. Pembaca
melihat jejak digital tokoh. Inilah yang membuat social media AU terasa berbeda
dari sebelum-sebelumnya. Cerita seolah-olah tidak sedang diceritakan kepada
pembaca, tetapi sedang berlangsung di hadapan pembaca.
Jika internet generasi awal membuat fanfiction mudah didistribusikan, media sosial mengubah cara cerita itu dirasakan. Cerita tidak lagi harus berbentuk halaman-halaman panjang. Sebuah cerita dapat hadir dalam bentuk utas, unggahan, komentar, tangkapan layar percakapan, pesan pribadi, foto, atau akun fiktif. Dalam konteks ini, istilah Social Media AU berkembang untuk menggambarkan karya yang menggunakan format media sosial sebagai bagian dari penyampaian cerita. Fanlore mencatat bahwa istilah Social Media AU dan bentuk-bentuk AU berbasis Twitter/X berkembang dalam komunitas penggemar, termasuk penggunaan akun khusus untuk karakter atau cerita AU.
Di sinilah terjadi perubahan yang mungkin paling menarik dalam sejarah AU.
Dalam cerita konvensional, seorang pengarang mengatakan kepada pembaca bahwa seorang tokoh sedang mengalami sesuatu. Dalam social media AU, pengalaman tersebut dapat diperlihatkan melalui jejak digital tokoh. Tokoh dapat memiliki akun sendiri, mengunggah sesuatu, membalas komentar, mengirim pesan, atau terlibat dalam percakapan dengan karakter lain. Pembaca kemudian tidak hanya membaca apa yang terjadi, tetapi seolah-olah menemukan apa yang terjadi melalui kehidupan digital karakter.
Transformasi Nilai dalam AU
Perubahan AU bukan hanya perubahan bentuk.
Ada pula perubahan nilai dan fungsi. Pada masa awal budaya fanwork, nilai utama
yang terlihat adalah ekspresi penggemar dan komunitas. Penggemar menciptakan
karya karena mereka memiliki keterikatan terhadap dunia cerita tertentu. Kemudian,
ketika internet berkembang, muncul nilai demokratisasi produksi.
Siapa pun dapat menulis. Tidak harus
menjadi penerbit. Tidak harus memiliki perusahaan media. Tidak harus memiliki
akses ke industri kreatif. Cukup memiliki gagasan dan ruang untuk mempublikasikannya.
Ketika AU masuk ke media sosial, nilai
tersebut berkembang menjadi partisipasi dan interaksi. Pembaca dapat: memberikan
komentar; membuat teori; membagikan cerita; membuat fanart; berdiskusi dengan
penulis; dan membentuk komunitas. Kajian mengenai AU di X juga menunjukkan
bahwa interaksi pembaca tidak selalu berhenti pada konsumsi cerita, tetapi
dapat menjadi bagian dari proses kreatif dan komunikasi dalam komunitas.
AU dan Eksperimen Identitas
Ada aspek lain yang tidak kalah menarik,
yaitu: identitas. Dalam banyak AU, terutama yang menggunakan tokoh publik atau
face claim, seseorang dapat mengambil wajah atau figur yang sudah dikenal
kemudian membangun identitas baru di sekitarnya. Dengan demikian, wajah yang
sudah dikenal dapat menjadi pintu masuk menuju sebuah identitas fiksi baru.
Hal ini menunjukkan bahwa AU bukan hanya
permainan alur cerita. Ia juga dapat menjadi ruang untuk mengeksplorasi:
identitas; relasi; kehidupan sosial; pekerjaan; keluarga; kelas sosial; dan
berbagai kemungkinan kehidupan.
Mengapa AU Begitu Menarik di Media Sosial?
Ada beberapa faktor yang membuat AU cocok dengan karakter media sosial.
- Cerita dapat dibuat berseri. Cerita tidak harus selesai dalam satu publikasi. Episode dapat muncul secara bertahap.
- Pembaca dapat langsung memberikan respons. Komentar dan reaksi menjadi bagian dari ekosistem cerita.
- Cerita dapat menggunakan berbagai format. Teks dapat dipadukan dengan: foto; video; screenshot; musik; ilustrasi; emoji; dan desain visual.
- Karakter dapat memiliki “akun”. Tokoh seolah-olah memiliki kehidupan digital sendiri.
- Komunitas dapat ikut membangun popularitas cerita. Sebuah karya dapat menyebar melalui rekomendasi, repost, quote, hashtag, dan percakapan komunitas.
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa
penggunaan fitur seperti reply, quote tweet, polling, dan hashtag menjadi
bagian dari pola interaksi pembaca AU di X.
Fenomena AU juga berkembang cukup kuat di
Indonesia. Penelitian akademik dalam beberapa tahun terakhir mulai menjadikan
AU sebagai objek kajian komunikasi, budaya, fandom, dan sastra digital. Salah
satu penelitian mengenai komunitas AU di X mencatat bahwa sebuah base AU telah
menjadi ruang bagi pembaca dan penulis untuk mempromosikan serta menemukan
cerita sejak 2020. Penelitian lain mengenai NCTzen Indonesia menunjukkan bahwa
produksi AU dapat dipahami sebagai bentuk budaya partisipatif dalam fandom.
Artinya, AU di Indonesia bukan lagi sekadar aktivitas individual. Ia telah berkembang menjadi fenomena komunitas.
Dari Fanfiction menuju Social Media
Storytelling
Jika melihat perjalanan panjang
perkembangan Alternate Universe (AU), perubahan tersebut dapat dipahami sebagai
sebuah proses yang berlangsung secara bertahap, dari budaya fanwork yang
menekankan kebebasan kreativitas menuju bentuk penceritaan digital yang semakin
interaktif dan partisipatif. Pada masa sebelum internet, cerita alternatif dan
berbagai bentuk fanwork menjadi ruang bagi penggemar untuk mengeksplorasi
kemungkinan-kemungkinan baru dari cerita yang mereka sukai, dengan kreativitas
sebagai nilai yang paling menonjol. Memasuki dekade 1960-an hingga 1980-an,
kehadiran fanzine memperkuat dimensi komunitas, karena karya-karya penggemar
tidak lagi sekadar menjadi ekspresi individual, tetapi juga menjadi bagian dari
jaringan pertukaran ide di antara sesama penggemar.
Perubahan semakin terlihat pada dekade
1990-an ketika internet dan forum daring mulai memperluas ruang distribusi
karya. Cerita yang sebelumnya beredar melalui media cetak dan jaringan
komunitas yang relatif terbatas dapat dibagikan kepada pembaca yang lebih luas,
sehingga distribusi menjadi salah satu nilai penting dalam perkembangan budaya
fanfiction. Memasuki akhir 1990-an hingga dekade 2000-an, munculnya berbagai
platform fanfiction semakin membuka kesempatan bagi siapa saja untuk membaca,
menulis, memberikan tanggapan, dan terlibat dalam komunitas. Pada tahap ini,
akses dan partisipasi menjadi semakin penting karena batas antara pembaca dan
pencipta karya mulai semakin cair.
Sekitar akhir 2000-an, perkembangan arsip
digital untuk karya-karya transformatif turut memberikan dimensi baru berupa
pelestarian. Karya penggemar tidak hanya dibuat dan dibagikan, tetapi juga
mulai dipandang sebagai bagian dari budaya digital yang perlu didokumentasikan
dan dipertahankan. Memasuki dekade 2010-an, perkembangan platform sosial
seperti Twitter, Tumblr, Instagram, dan berbagai media digital lainnya mengubah
kembali cara cerita dikonsumsi dan disampaikan. Interaksi menjadi semakin
dominan karena pembaca dapat memberikan respons secara langsung, mengikuti
perkembangan cerita, berdiskusi dengan penulis, bahkan turut membentuk suasana
komunitas di sekitar sebuah karya.
Pada dekade 2020-an, perkembangan tersebut
semakin terlihat dalam bentuk Social Media AU. Cerita tidak lagi selalu
disajikan sebagai narasi panjang dalam bentuk prosa konvensional, tetapi dapat
dikemas menyerupai percakapan WhatsApp, unggahan media sosial, direct message,
tweet, komentar, tangkapan layar, atau rangkaian berbagai bentuk komunikasi
digital. Dalam format ini, media sosial bukan sekadar tempat untuk
mempublikasikan cerita, melainkan menjadi bagian dari bahasa cerita itu
sendiri. Pembaca seolah-olah tidak hanya membaca sebuah kisah, tetapi ikut
mengamati kehidupan para tokoh melalui jejak digital yang sengaja dibangun oleh
penulis. Karena itu, imersi dan partisipasi menjadi nilai yang semakin kuat
dalam pengalaman membaca AU kontemporer.
Perkembangan tersebut kemudian bergerak
menuju bentuk yang semakin multiplatform dan transmedia, ketika sebuah cerita dapat
hadir secara bersamaan di berbagai media dan platform. Tokoh, alur, percakapan,
visual, video, musik, hingga interaksi dengan pembaca dapat menjadi bagian dari
satu pengalaman naratif yang saling terhubung. Dengan demikian, perjalanan AU
dapat dilihat bukan sekadar sebagai perubahan dari fanfiction menuju Social
Media AU, tetapi sebagai transformasi cara manusia menciptakan, menyebarkan,
mengalami, dan berpartisipasi dalam sebuah cerita. Dari kreativitas, kemudian
berkembang menjadi komunitas, distribusi, akses, partisipasi, pelestarian,
interaksi, imersi, dan akhirnya menuju pengalaman naratif yang semakin
multiplatform dan partisipatif.
Namun, periodisasi tersebut perlu dipahami
sebagai kerangka analitis, bukan sebagai batas sejarah yang kaku. Setiap bentuk
tidak serta-merta menghilangkan bentuk sebelumnya. Fanzine tetap dapat hidup
setelah internet muncul, fanfiction konvensional tetap berkembang di tengah
maraknya Social Media AU, dan cerita berbasis media sosial dapat berdampingan
dengan novel, forum, atau platform fanfiction. Selain itu, perkembangan
tersebut juga berlangsung secara berbeda di setiap komunitas dan fandom. Oleh
karena itu, sejarah AU lebih tepat dipahami sebagai jaringan perkembangan yang
saling bertumpang tindih, bukan sebagai garis lurus yang bergerak dari satu
bentuk menuju bentuk berikutnya.
Sumber:
Amanda, F. S., & Saragih, M. Y.
(2024). Pola Komunikasi Public Relations terhadap Fiksi Penggemar: Alternative
Universe (AU) dalam Media Jurnalistik Digital (Media Sosial X). Satwika: Kajian
Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial, 8(1), 233–244.
Erliana, E., & Khoiriah, W. I. N.
(2024). Alternative Universe (AU) Sebagai Budaya Partisipatif NCTzen Indonesia
di Aplikasi X. Jurnal Riset Komunikasi, 15(1).
Febriyanti, A., & Ekomila, S. (2024).
Fenomena Cerita Alternative Universe (AU) Bertema Homoseksual di Media Sosial
Twitter. Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial, 18(1).
Organization for Transformative Works. Our
History.
Fanlore. Alternate Universe.

