Transformasi Alternate Universe (AU) Perspektif Sejarah dan Perkembangannya

Aidul Azhari Harahap, M.Pd. • • 1 min read •

Ilustrasi. Alternate Universe, Sebuah Perubahan Imajinasi Terhadap Tokoh yang Dituangkan dalam Sebuah Cerita yang Berbeda dari Keadaan dan Kondisi dari Tokoh yang Sebenarnya
Sumber: claude.ai

Di tengah derasnya perkembangan media sosial yang terjadi saat ini, muncul berbagai bentuk baru dalam cara manusia bercerita. Cerita tidak lagi selalu hadir dalam bentuk novel, cerpen, atau buku. Ia dapat muncul sebagai utas di X, percakapan WhatsApp, unggahan Instagram, video TikTok, bahkan melalui akun fiktif yang seolah-olah benar-benar dimiliki oleh tokoh cerita.

Bagi pengguna media sosial, terutama generasi yang akrab dengan fandom, istilah AU mungkin terasa sangat biasa. Di berbagai ruang digital, kita dapat menemukan cerita yang menempatkan seorang idol sebagai mahasiswa, seorang aktor sebagai barista, tokoh fiksi sebagai dokter, atau sekelompok karakter populer ke dalam kehidupan yang sama sekali tidak terdapat dalam cerita aslinya. Cerita itu bahkan dapat disampaikan bukan melalui narasi panjang, melainkan melalui tangkapan layar percakapan, unggahan media sosial, komentar, pesan pribadi, foto, video, hingga akun fiktif yang seolah-olah benar-benar dimiliki oleh tokoh tersebut.

Bentuk seperti ini tampak sangat modern. Namun, jika kita melihatnya lebih jauh ke belakang, AU sesungguhnya memiliki akar yang jauh lebih panjang daripada usia media sosial. Yang baru bukanlah keinginan manusia untuk membayangkan dunia alternatif, melainkan cara keinginan tersebut diwujudkan, disebarkan, dan dialami oleh pembaca melalui teknologi digital.

Apasih sebenarnya Alternate Universe?

Secara umum, Alternate Universe (AU) digunakan sebagai penanda bagi karya penggemar yang mengubah satu atau beberapa unsur dari dunia atau canon karya sumber. Perubahan tersebut dapat berupa pemindahan tokoh ke latar yang berbeda, perubahan profesi, tujuan hidup, hubungan, genre, maupun latar belakang mereka. Dalam praktik fandom, AU memiliki wilayah yang sangat luas dan batas yang tidak selalu kaku. Karena itu, AU lebih tepat dipahami sebagai sebuah cara untuk membuka kemungkinan baru terhadap sebuah dunia cerita daripada sekadar genre yang mempunyai satu bentuk baku.

Gagasan mengenai dunia alternatif sendiri sebenarnya jauh lebih tua daripada istilah AU. Manusia telah lama gemar membayangkan kemungkinan sejarah yang berbeda, akhir cerita yang lain, tokoh yang mengambil keputusan berbeda, atau kehidupan yang seharusnya terjadi tetapi tidak pernah terjadi dalam cerita asli. Dalam konteks budaya penggemar modern, praktik semacam ini kemudian bertemu dengan perkembangan fanfiction, yaitu karya yang dibuat penggemar dengan menggunakan tokoh, dunia, atau unsur dari karya yang telah ada.

AU Tidak Lahir Bersama Media Sosial

Salah satu jejak penting dalam sejarah budaya penggemar modern dapat ditemukan pada tradisi fanzine. Jauh sebelum internet memungkinkan seseorang mempublikasikan cerita dalam hitungan detik, para penggemar telah membuat dan menyebarkan publikasi mereka sendiri. Salah satu contoh yang terkenal adalah Spockanalia, yang terbit pertama kali pada September 1967 sebagai fanzine Star Trek. Isinya tidak hanya berupa komentar mengenai serial tersebut, tetapi juga cerita, puisi, karya seni, dan berbagai kontribusi penggemar.

Peristiwa seperti ini penting karena menunjukkan perubahan mendasar dalam posisi penggemar. Mereka tidak lagi hanya menjadi penonton atau pembaca yang menerima cerita sebagaimana diberikan oleh pencipta aslinya. Mereka mulai mengambil dunia yang mereka sukai, menafsirkannya kembali, memperluasnya, dan menciptakan karya baru berdasarkan keterikatan mereka terhadap dunia tersebut. Dengan kata lain, budaya penggemar mulai memperlihatkan sebuah pola yang kelak menjadi sangat penting dalam perkembangan AU: penggemar tidak hanya mengonsumsi cerita, tetapi ikut menciptakan makna dan karya baru dari cerita yang mereka konsumsi.

Di sinilah sejarah AU bersentuhan dengan sejarah fanfiction. Namun, keduanya tidak sepenuhnya identik. Tidak semua fanfiction merupakan AU, dan tidak semua AU mempunyai bentuk yang sama. Fanfiction merupakan istilah yang lebih luas untuk berbagai karya transformasional berbasis fandom, sedangkan AU merupakan salah satu cara untuk mengubah atau menyusun kembali unsur-unsur dari karya sumber. Karena itu, lebih tepat jika kita melihat AU sebagai salah satu cabang dari tradisi kreatif yang lebih luas dalam budaya fanwork.

Dari Fanzine ke Internet ke Era Archive of Our Own dan Budaya Fanwork

Ketika internet mulai berkembang, perubahan besar terjadi. Jika sebelumnya cerita penggemar harus disebarkan melalui media cetak atau komunitas terbatas, internet memungkinkan seseorang mengunggah cerita dan membacanya dari tempat yang berbeda. Salah satu tonggak penting adalah hadirnya FanFiction.Net, yang diluncurkan pada 15 Oktober 1998 oleh Xing Li. Platform tersebut menjadi arsip fanfiction lintas fandom dan menyediakan ruang bagi pengguna untuk mengunggah karya, memberikan ulasan, berkomunikasi, dan membangun komunitas.

Pada tahap berikutnya, perkembangan komunitas fanwork juga melahirkan kesadaran mengenai pentingnya pelestarian karya penggemar. Pada 2007, para penggemar mendirikan Organization for Transformative Works (OTW), sebuah organisasi nirlaba yang antara lain bertujuan melayani kepentingan penggemar, melestarikan sejarah fanwork, dan menyediakan ruang bagi karya-karya transformasional. Salah satu proyek terbesarnya adalah Archive of Our Own atau AO3, yang dikembangkan sebagai arsip nirlaba dan nonkomersial untuk berbagai karya penggemar. AO3 mulai memasuki limited beta pada 2008 dan dibuka untuk publik pada 2009.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa fanfiction dan karya transformasional tidak lagi dapat dipandang semata-mata sebagai aktivitas kecil di pinggir budaya populer. Ia telah berkembang menjadi praktik budaya yang memiliki komunitas, arsip, sejarah, bahkan ruang akademik untuk dipelajari. OTW sendiri meluncurkan jurnal Transformative Works and Cultures pada 2008 sebagai jurnal akademik peer-reviewed yang berfokus pada fanwork dan budaya penggemar.

Pada titik ini, kita dapat melihat sebuah perubahan nilai yang cukup penting. Pada masa fanzine, karya penggemar terutama menjadi sarana ekspresi dan komunikasi komunitas. Dengan hadirnya internet, karya tersebut memperoleh nilai baru: aksesibilitas, distribusi yang lebih luas, dan kesempatan bagi lebih banyak orang untuk menjadi pencipta. Ketika platform digital semakin berkembang, nilai partisipasi menjadi semakin kuat. Penggemar tidak lagi hanya membaca cerita, tetapi dapat memberikan komentar, membangun komunitas, membuat karya turunan, dan ikut menentukan bagaimana sebuah karya beredar dalam lingkungan digital.

Perubahan tersebut sejalan dengan konsep participatory culture yang banyak digunakan dalam studi fandom. Henry Jenkins menjelaskan fandom sebagai salah satu bentuk budaya partisipatif yang memungkinkan penggemar memberikan respons kreatif terhadap teks populer sekaligus melakukan negosiasi sosial terhadap makna dan nilai teks tersebut. Dalam lingkungan jaringan digital, batas antara konsumen dan produsen juga menjadi semakin kabur.

Indonesia pun tidak berada di luar perkembangan ini. Penelitian mengenai fandom di Indonesia menunjukkan bahwa aktivitas penggemar dapat berkembang menjadi bentuk budaya partisipatif melalui penulisan fanfiction di platform digital seperti Wattpad. Dalam beberapa tahun terakhir, AU juga mulai menjadi objek penelitian yang berkaitan dengan komunikasi, fandom, budaya digital, dan interaksi pengguna media sosial.

Perubahan besar terjadi ketika cerita mulai berpindah dari platform khusus fanfiction menuju media sosial. Twitter atau X menjadi salah satu ruang yang menarik karena formatnya memungkinkan cerita disusun dalam bentuk thread. Cerita tidak harus lagi ditampilkan sebagai paragraf panjang. Ia dapat berupa: tweet → balasan → screenshot percakapan → foto → tweet berikutnya → komentar → kelanjutan cerita.

Dalam perkembangan berikutnya, muncul format seperti: fake chat; social media AU; Instagram AU; Twitter/X AU; WhatsApp AU; atau TikTok AU.

Di Indonesia, penelitian mengenai AU di X menunjukkan bahwa format ini telah berkembang menjadi ruang ekspresi dan interaksi antara penulis dan pembaca. Salah satu penelitian bahkan menemukan pola komunikasi yang bersifat sirkular antara penulis dan pembaca AU.

Penelitian lain terhadap komunitas AU di Indonesia menunjukkan bahwa AU menjadi salah satu bentuk budaya partisipatif dalam fandom, khususnya dalam komunitas NCTzen di aplikasi X. Dengan demikian, AU modern tidak lagi hanya berbicara mengenai cerita, tetapi juga mengenai interaksi sosial di sekitar cerita.

Di sinilah terjadi perubahan yang menarik. Dalam novel konvensional, pembaca memperoleh informasi melalui narasi yang disampaikan pengarang. Misalnya: Cerita Tokoh “Rion” yang sedang mengejar cinta dari “Celine”. Dalam AU media sosial, kisah tokoh dan pengalaman tersebut dapat disajikan dalam bentuk yang unik dan pembaca sedang dihipnotis mengikuti alur cerita yang padahal itu tidak pernah terjadi dalam diri tokoh yang diangkat.

Cuplikan AU dalam Media Sosial Instagram
Sumber: Instagram/romeesnapss

Kemudian muncul screenshot percakapan pribadi. Pembaca tidak hanya memperoleh informasi melalui narasi. Pembaca melihat jejak digital tokoh. Inilah yang membuat social media AU terasa berbeda dari sebelum-sebelumnya. Cerita seolah-olah tidak sedang diceritakan kepada pembaca, tetapi sedang berlangsung di hadapan pembaca.

Jika internet generasi awal membuat fanfiction mudah didistribusikan, media sosial mengubah cara cerita itu dirasakan. Cerita tidak lagi harus berbentuk halaman-halaman panjang. Sebuah cerita dapat hadir dalam bentuk utas, unggahan, komentar, tangkapan layar percakapan, pesan pribadi, foto, atau akun fiktif. Dalam konteks ini, istilah Social Media AU berkembang untuk menggambarkan karya yang menggunakan format media sosial sebagai bagian dari penyampaian cerita. Fanlore mencatat bahwa istilah Social Media AU dan bentuk-bentuk AU berbasis Twitter/X berkembang dalam komunitas penggemar, termasuk penggunaan akun khusus untuk karakter atau cerita AU.

Di sinilah terjadi perubahan yang mungkin paling menarik dalam sejarah AU.

Dalam cerita konvensional, seorang pengarang mengatakan kepada pembaca bahwa seorang tokoh sedang mengalami sesuatu. Dalam social media AU, pengalaman tersebut dapat diperlihatkan melalui jejak digital tokoh. Tokoh dapat memiliki akun sendiri, mengunggah sesuatu, membalas komentar, mengirim pesan, atau terlibat dalam percakapan dengan karakter lain. Pembaca kemudian tidak hanya membaca apa yang terjadi, tetapi seolah-olah menemukan apa yang terjadi melalui kehidupan digital karakter.

Transformasi Nilai dalam AU

Perubahan AU bukan hanya perubahan bentuk. Ada pula perubahan nilai dan fungsi. Pada masa awal budaya fanwork, nilai utama yang terlihat adalah ekspresi penggemar dan komunitas. Penggemar menciptakan karya karena mereka memiliki keterikatan terhadap dunia cerita tertentu. Kemudian, ketika internet berkembang, muncul nilai demokratisasi produksi.

Siapa pun dapat menulis. Tidak harus menjadi penerbit. Tidak harus memiliki perusahaan media. Tidak harus memiliki akses ke industri kreatif. Cukup memiliki gagasan dan ruang untuk mempublikasikannya.

Ketika AU masuk ke media sosial, nilai tersebut berkembang menjadi partisipasi dan interaksi. Pembaca dapat: memberikan komentar; membuat teori; membagikan cerita; membuat fanart; berdiskusi dengan penulis; dan membentuk komunitas. Kajian mengenai AU di X juga menunjukkan bahwa interaksi pembaca tidak selalu berhenti pada konsumsi cerita, tetapi dapat menjadi bagian dari proses kreatif dan komunikasi dalam komunitas.

AU dan Eksperimen Identitas

Ada aspek lain yang tidak kalah menarik, yaitu: identitas. Dalam banyak AU, terutama yang menggunakan tokoh publik atau face claim, seseorang dapat mengambil wajah atau figur yang sudah dikenal kemudian membangun identitas baru di sekitarnya. Dengan demikian, wajah yang sudah dikenal dapat menjadi pintu masuk menuju sebuah identitas fiksi baru.

Hal ini menunjukkan bahwa AU bukan hanya permainan alur cerita. Ia juga dapat menjadi ruang untuk mengeksplorasi: identitas; relasi; kehidupan sosial; pekerjaan; keluarga; kelas sosial; dan berbagai kemungkinan kehidupan.

Mengapa AU Begitu Menarik di Media Sosial? Ada beberapa faktor yang membuat AU cocok dengan karakter media sosial.

  1. Cerita dapat dibuat berseri. Cerita tidak harus selesai dalam satu publikasi. Episode dapat muncul secara bertahap.
  2. Pembaca dapat langsung memberikan respons. Komentar dan reaksi menjadi bagian dari ekosistem cerita.
  3. Cerita dapat menggunakan berbagai format. Teks dapat dipadukan dengan: foto; video; screenshot; musik; ilustrasi; emoji; dan desain visual.
  4. Karakter dapat memiliki “akun”. Tokoh seolah-olah memiliki kehidupan digital sendiri.
  5. Komunitas dapat ikut membangun popularitas cerita. Sebuah karya dapat menyebar melalui rekomendasi, repost, quote, hashtag, dan percakapan komunitas.

Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan fitur seperti reply, quote tweet, polling, dan hashtag menjadi bagian dari pola interaksi pembaca AU di X.

Fenomena AU juga berkembang cukup kuat di Indonesia. Penelitian akademik dalam beberapa tahun terakhir mulai menjadikan AU sebagai objek kajian komunikasi, budaya, fandom, dan sastra digital. Salah satu penelitian mengenai komunitas AU di X mencatat bahwa sebuah base AU telah menjadi ruang bagi pembaca dan penulis untuk mempromosikan serta menemukan cerita sejak 2020. Penelitian lain mengenai NCTzen Indonesia menunjukkan bahwa produksi AU dapat dipahami sebagai bentuk budaya partisipatif dalam fandom.

Artinya, AU di Indonesia bukan lagi sekadar aktivitas individual. Ia telah berkembang menjadi fenomena komunitas.

Dari Fanfiction menuju Social Media Storytelling

Jika melihat perjalanan panjang perkembangan Alternate Universe (AU), perubahan tersebut dapat dipahami sebagai sebuah proses yang berlangsung secara bertahap, dari budaya fanwork yang menekankan kebebasan kreativitas menuju bentuk penceritaan digital yang semakin interaktif dan partisipatif. Pada masa sebelum internet, cerita alternatif dan berbagai bentuk fanwork menjadi ruang bagi penggemar untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru dari cerita yang mereka sukai, dengan kreativitas sebagai nilai yang paling menonjol. Memasuki dekade 1960-an hingga 1980-an, kehadiran fanzine memperkuat dimensi komunitas, karena karya-karya penggemar tidak lagi sekadar menjadi ekspresi individual, tetapi juga menjadi bagian dari jaringan pertukaran ide di antara sesama penggemar.

Perubahan semakin terlihat pada dekade 1990-an ketika internet dan forum daring mulai memperluas ruang distribusi karya. Cerita yang sebelumnya beredar melalui media cetak dan jaringan komunitas yang relatif terbatas dapat dibagikan kepada pembaca yang lebih luas, sehingga distribusi menjadi salah satu nilai penting dalam perkembangan budaya fanfiction. Memasuki akhir 1990-an hingga dekade 2000-an, munculnya berbagai platform fanfiction semakin membuka kesempatan bagi siapa saja untuk membaca, menulis, memberikan tanggapan, dan terlibat dalam komunitas. Pada tahap ini, akses dan partisipasi menjadi semakin penting karena batas antara pembaca dan pencipta karya mulai semakin cair.

Sekitar akhir 2000-an, perkembangan arsip digital untuk karya-karya transformatif turut memberikan dimensi baru berupa pelestarian. Karya penggemar tidak hanya dibuat dan dibagikan, tetapi juga mulai dipandang sebagai bagian dari budaya digital yang perlu didokumentasikan dan dipertahankan. Memasuki dekade 2010-an, perkembangan platform sosial seperti Twitter, Tumblr, Instagram, dan berbagai media digital lainnya mengubah kembali cara cerita dikonsumsi dan disampaikan. Interaksi menjadi semakin dominan karena pembaca dapat memberikan respons secara langsung, mengikuti perkembangan cerita, berdiskusi dengan penulis, bahkan turut membentuk suasana komunitas di sekitar sebuah karya.

Pada dekade 2020-an, perkembangan tersebut semakin terlihat dalam bentuk Social Media AU. Cerita tidak lagi selalu disajikan sebagai narasi panjang dalam bentuk prosa konvensional, tetapi dapat dikemas menyerupai percakapan WhatsApp, unggahan media sosial, direct message, tweet, komentar, tangkapan layar, atau rangkaian berbagai bentuk komunikasi digital. Dalam format ini, media sosial bukan sekadar tempat untuk mempublikasikan cerita, melainkan menjadi bagian dari bahasa cerita itu sendiri. Pembaca seolah-olah tidak hanya membaca sebuah kisah, tetapi ikut mengamati kehidupan para tokoh melalui jejak digital yang sengaja dibangun oleh penulis. Karena itu, imersi dan partisipasi menjadi nilai yang semakin kuat dalam pengalaman membaca AU kontemporer.

Perkembangan tersebut kemudian bergerak menuju bentuk yang semakin multiplatform dan transmedia, ketika sebuah cerita dapat hadir secara bersamaan di berbagai media dan platform. Tokoh, alur, percakapan, visual, video, musik, hingga interaksi dengan pembaca dapat menjadi bagian dari satu pengalaman naratif yang saling terhubung. Dengan demikian, perjalanan AU dapat dilihat bukan sekadar sebagai perubahan dari fanfiction menuju Social Media AU, tetapi sebagai transformasi cara manusia menciptakan, menyebarkan, mengalami, dan berpartisipasi dalam sebuah cerita. Dari kreativitas, kemudian berkembang menjadi komunitas, distribusi, akses, partisipasi, pelestarian, interaksi, imersi, dan akhirnya menuju pengalaman naratif yang semakin multiplatform dan partisipatif.

Namun, periodisasi tersebut perlu dipahami sebagai kerangka analitis, bukan sebagai batas sejarah yang kaku. Setiap bentuk tidak serta-merta menghilangkan bentuk sebelumnya. Fanzine tetap dapat hidup setelah internet muncul, fanfiction konvensional tetap berkembang di tengah maraknya Social Media AU, dan cerita berbasis media sosial dapat berdampingan dengan novel, forum, atau platform fanfiction. Selain itu, perkembangan tersebut juga berlangsung secara berbeda di setiap komunitas dan fandom. Oleh karena itu, sejarah AU lebih tepat dipahami sebagai jaringan perkembangan yang saling bertumpang tindih, bukan sebagai garis lurus yang bergerak dari satu bentuk menuju bentuk berikutnya.

 

Sumber:

Amanda, F. S., & Saragih, M. Y. (2024). Pola Komunikasi Public Relations terhadap Fiksi Penggemar: Alternative Universe (AU) dalam Media Jurnalistik Digital (Media Sosial X). Satwika: Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial, 8(1), 233–244.

Erliana, E., & Khoiriah, W. I. N. (2024). Alternative Universe (AU) Sebagai Budaya Partisipatif NCTzen Indonesia di Aplikasi X. Jurnal Riset Komunikasi, 15(1).

Febriyanti, A., & Ekomila, S. (2024). Fenomena Cerita Alternative Universe (AU) Bertema Homoseksual di Media Sosial Twitter. Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial, 18(1).

Organization for Transformative Works. Our History.

Fanlore. Alternate Universe.

StarTrek.com. Spockanalia — The First Star Trek Fanzine.